Dunia kita sudah terlalu banyak dipenuhi peralatan elektronik serba canggih. Salah satu yang dekat dengan diri manusia, bahkan menjadi teman paling dekat di saat tidur sekalipun, adalah telepon genggam. Dengan berbagai macam fitur unggulan yang ditawarkan, telepon genggam menjadi alat kehidupan manusia paling sering dipergunakan mengalahkan peralatan hidup lain seperti alat pertanian, alat tenun, alat memasak dan alat-alat bekerja sehari-hari lainnya. Karena frekwensi pemakaian alat komunikasi ini sudah melampaui batas maksimal interaksi manusia dengan alat-alat kehidupan lainnya, maka banyak penelitian yang bernada sinis dan bernada menenangkan "mengada-ada", bahkan "merekayasa" dampak yang dapat diakibatkan karena terlalu sering terpapar alat komunikasi telepon genggam.
Bila kita berjalan-jalan di trotoar negara-negara maju seperti Perancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok dan lainnya, maka kita akan menjumpai pemandangan yang sama. Hampir semua pengguna jalan sibuk memandangi telepon genggam mereka yang besarnya sudah tidak sebesar genggaman telapak tangan lagi, namun bisa lebih besar dari itu. Sambil berjalan mereka memandangi telepon yang mirip bentuknya dengan buku catatan. Evolusi telepon genggam ini membawa dampak yang lain lagi, yaitu pindahnya dunia hiburan yang dulu hanya dapat disajikan televisi dan bioskop, ke dalam alat tersebut. Semakin sempit dunia tempat manusia yang luas, dan semakin luas dunia genggaman alat komunikasi di tangan pemakainya.
Tiga hari yang lalu saya terkejut karena bunyi telepon genggam android saya berbunyi khas mengisyaratkan masuknya pesan dari whatsapp. Saya anggap biasa saja karena sudah terlalu sering menerima pesan lewat fitur itu dari banyak teman dan kelompok teks wicara yang berbeda-beda. Setelah lama saya biarkan, saya agak terganggu juga dengan suaranya yang berkali-kali bunyi. Saya membuka fitur itu dan ternyata bukan dari teman-teman prodi atau teman-teman dari kelompok wicara saya yang lain, melainkan dari group teman SMA saya. Saya lihat beberapa tampilan nomor telepon genggam bermunculan dengan diikuti nama pemiliknya yang sudah tidak asing beberapa bagi saya dan ada yang sudah berganti menjadi agak asing dan aneh menurut saya.
Saya ikuti saja apa yang mereka bicarakan dan diskusikan. Ternyata hanya masalah-masalah sepele saja dan tidak terlalu penting. Namun ada sebuah nama yang memang sudah ada sebelumnya di phonebook saya, Erwin, sahabat saya di SMA sejak kelas satu. Dia menulis nama saya dengan gaya khas dia memanggil saya seperti kalau bertatap muka: "ALiiiiiiiiiiiiiii......kangeeeeeeennnnnn..... gambarnya pp mu aaaaaaaaaallll... kereeeeeeeennnnn......". Aku balas seadanya saja: "Opo win....?" dengan agak malas. Sambutanku justru mendapat tanggapan dari anggota kelompok pesan teks itu saling bersautan. Ada yang menanyakan pekerjaanku apa, tinggal di mana, sudah punya istri berapa, sudah punya anak berapa, sudah pernah menghamili anak tetangga berapa kali, sampai sudah minum alkohol dari merk apa saja... Saya terhenyak dan terheran-heran. Apa betul ini kelompok manusia yang terdidik dan "terliterasi" oleh alat canggih bernama telepon genggam?
Saya beranikan diri membuka diskusi dan memberi pertanyaan singkat-singkat dan terkesan dingin-dingin saja. Saya lebih banyak memberi jawaban pertanyaan sahabat saya saja daripada yang lain karena pertanyaan mereka membuat saya menjadi "a total stranger" di dunia SMA [masa lalu] yang sebenarnya telah membesarkan saya. Namun saya harus jujur saya menjadi terasing dengan dunia yang dibawa oleh sahabat saya itu. Dunia saya sudah jauh terpencil dari dunia teman-teman sekolah saya dulu. Saya menjadi makhluk asing bernama "Ali-en" yang teralienasi dalam kesendirian saya yang tidak bisa menikmati dunia kelompok wicara whatsapp itu. Semua teman-teman di dunia kecil yang besar itu seolah-olah bertanya pada saya: "whatssup [Doc] dodol?", "Loe oon ya?". Saya tersadar ketika sahabat saya menyapa: "Al, kapan main ke rumahku? Aku kangen traktiranmu, al". Saya jawab seadanya dan sekenanya saja, tapi teman-teman sahabat saya malah menuduh dan melontarkan cemoohan pada saya dan sahabat saya: "kalian homo ya?","Cie cie... cinta lama bersemi kembali", "Win, sejak kapan kamu dodol dodolan sama ali... padahal dulu kamu maunya sama aku...", dan sebagainya yang disambut tawa-tawa ikonis yang menggelitik dan agak hambar nadanya.
Saya akhirnya melakukan komunikasi secara pribadi dengan sahabat saya. Saya mengutarakan keinginan saya kepadanya bahwa saya akan menarik diri dan tidak ingin bergabung lagi. Saya tidak mau bergabung dengan alasan saya sibuk dan sebagainya dan pasti nantinya tidak aktif. Dengan berat hati sahabat saya itu melepaskan pernyataan:"Okee al... ya sudah gak papa kamu leave saja. Kita komunikasi pribadi dan BBM an saja ya". Jawaban sahabat saya melegakan dan membuat saya melemas mendesahkan nafas panjang.
Apa yang saya alami dan rasakan dalam menaungi dunia kecil bernama whatssapp, membuat saya teringat pada puisi Robert Frost "Mending Wall". Beberapa petilan di situ yang cukup membuat saya tersinggung dan sakit hati sekaligus sadar diri adalah ungkapan-ungkapan:
I have come after them and made repair
Where they have left not one stone on a stone,
But they would have the rabbit out of hiding,
To please the yelping dogs
Where they have left not one stone on a stone,
But they would have the rabbit out of hiding,
To please the yelping dogs
The gaps I mean,
....
No one has seen them made or heard them made,
But at spring mending-time we find them there.
I let my neighbor know beyond the hill;
And on a day we meet to walk the line
And set the wall between us once again
...
Petilan-petilan Frost membuat saya tersadar akan batas-batas yang saya ciptakan. Kesadaran saya akan batas-batas itu membuat saya merasa asing dengan dunia saya sendiri sebenarnya. Saya terbelalak dan "... blinking like an owl surprised by daylight..." (Gallsworthy, "Quality"). Saya tersudut dan tersadar seperti seekor kelinci yang ketakutan karena gonggongan anjing pemburu yang ganas dan kejam. keluarnya saya dari kelompok wicara teks itu akhirnya membangun tembok saya lagi sekali lagi dengan teman-teman saya karena saya merasa kenyamanan saya terancam. Kehidupan pribadi saya di masa lalu akan terancam, kenyamanan saya dengan keberadaan saya akan terusik dengan "ketidakliterasian" mereka yang mengganggu jangkauan "imaji" saya yang sudah terlalu sesak dipenuhi imaji-imaji Frost, Poe, Wordsworth, Yeats, Keats, Howthorne, Hardy dan lain-lain yang serba indah dan menghibur daripada imaji-imaji yang menabrak indera saya yang ditimbulkan karena memahami ungkapan-ungkapan singkat teman-teman lama yang terdidik oleh kesadaran semu paket literasi android. Saya memilih diam dan tidak berkomentar. Saya tinggalkan kelompok wicara teks dan sahabat saya yang menurut saya sudah jauh melesat meninggalkan bumi saya yang gersang melaju melandas ke planet mereka sendiri, sementara saya hanya terpaku di tempat berpijak semula dan mendapati diri rapuh tidak bisa mengubah atau bahkan saya diubah oleh keadaan karena saya dinafikan dan di-nul-kan karena tidak bisa mengikuti gaya berwicara teks ala mereka. Saya benar-benar nir-literasi-android.
Kediaman yang saya ciptakan dan batas yang saya bangun sekali lagi, mengikuti alur Frost, merupakan bentuk protes saya dan ketidaksetujuan literasi ala android yang tidak punya pakem dan aturan yang ber-skala dan ber-niskala. Dunia android adalah dunia on and off. Dunia dalam batas antara ada dan tiada. Sebagai manusia kita harus bisa membuatnya harmonis dan saling menutupi, bukan dibiarkan terbuka dan tidak membangun sebuah peradaban [istilah Frost "walling in and walling out" itu sangat tepat] dunia digital yang terdeteksi dan terliterasi. Dalam genggaman, android menjadi dunia dalam wilayah "walling in" yang kejam dan menghakimi serta tanpa pernah bisa digugat karena sifat individunya. Untuk membuatnya menjadi "walling out" sesuai kehendak saya, akhinya saya membangun tembok saya sendiri, "to mend my own wall", yang akhirnya saya harus "mending wall".
Untuk sahabat saya yang setia, bukan berarti saya membangun tembok antara kita dan membuat batasan-batasan yang menjauhkan kamu dari saya. Saya tidak melakukan itu dan saya tidak akan pernah meninggalkan kamu di luar sana di dunia yang serba nir-literasi yang menjauhkan kita dari kata-kata halus, sopan, santun, bermartabat, bersahaja, dan menyejukkan pupuk rumput hijau persahabatan kita, yang telah kita kumpulkan selama masa sekolah dan selama umur persahabatan kita. Ingatlah lagu terakhir yang kita senandungkan bersama setahun yang lalu di karaoke keluarga bersama teman-teman: "Halo" Beyonce Knowless. Namun ingatlah, dinding yang keras yang diam itu juga bisa runtuh karena "keangkuhan" hujan, angin, panas, dingin dan serba ketidakmenentuan di luar sana. Mereka [dinding-dinging kita] berdekatan erat dan tidak bertengkar, "they didn't even put up a fight, they didn't even make a sound", namun ternyata bisa ambrol juga kan? Kamu telah terhipnotis kekuatan sihir kata-kata nir-literasi android yang mereka miliki. Android mu dan android merekalah yang memisahkan kita.
Tapi saya akan mencari cara untuk membuat sahabat saya masuk dalam dunia saya, masuk ke dalam dinding yang saya bangun sendiri dengan sentuhan kekuatan dan kerapatan ala saya. No matter what. Karena persahabatan itu lebih penting, mengalahkan dan melampaui batas-batas kemusykilan serta keraguan. Saya akan berjuang untuk mendapatkan, menyelamatkan, dan menggandeng tangan sahabat saya itu karena saya tahu dia tidak seharusnya di dunia whatssup nir-literasi yang bergelimang ketidakpastian dan rentan tersihir imaji-imaji semu yang menghancurkan dan menjauhkan saya dengan dia. I am never gonna shut you out!
----@li----
Pak Ali, I shared your concerns too. I've actually been wanting to deactivate my accounts, but then decided to stay. I just assume that I might still be able to do good things for others. Social media is a double-edged sword. It all depends on how you use it. Thanks for sharing.
ReplyDeleteThank you, but I had made a decision to leave them behind... I have made my own way to make use of whatssap and kinds of it. I tried to find a way to let some very selected people in. This is more promising.
ReplyDeleteI perfectly understand. In my case, I'm maneuvering to see when I should 'wall in' and 'wall out.' Like now, it's critical time. I have to get my thesis done soon.
ReplyDelete