Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengajarkan puisi di kelas. Hari ini saya melakukan sebuah terobosan yang saya coba kembangkan dengan pendekatan yang agak lintas disiplin. Tapi itu saya lakukan dengan sangat "terpaksa" karena nampaknya mahasiswa kurang meminati puisi dibandingkan dengan jenis karya sastra pertama yang saya berikan, prosa. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menarik dan agak "wild" adalah dengan "genre transformation".
Apa itu genre transformation? Ini adalah sebuah pendekatan yang sebenarnya sudah sangat populer di kalangan akademisi. Namun ada banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan dalam kegiatan membaca, menulis, memahami/menyimak, dan menyampaikan pesan. Dalam pendekatan dan strategi yang saya pergunakan terbukti cukup efektif dan menyenangkan bagi mahasiswa. Saya merasa mereka menghargai saya dan saya menjadi teman diskusi bagi mereka. Hanya itu harapan saya sebenarnya ketika pertama kali mengajar dan menyampaikan materi puisi ini. Saya akan memaparkan langkah-langkahnya sebagai berikut.
Pertama, saya tidak buru-buru menyajikan pengertian puisi, what does poetry mean? Itu adalah pertanyaan yang kurang lebih mengetes. Saya tidak akan bermain-main dengan pertanyaan seperti itu. That means a lot. Saya menampilkan sebuah lagu yang saya donlot dan kumpulkan dari beberapa sumber termasuk youtube. Sebuah lyric lagu lawas yang pernah dinyanyikan berturut-turut oleh Elaine Paige, Barbara Streisand dan juga Peabo Bryson. Berikut petilan lagu tersebut yang saya donlot dari internet.
...
Midnight
not a sound from the pavement
Has the moon lost her memory?
She is smiling alone
In the lamplight, the withered leaves collect at my feet
And the wind begins to moan
Has the moon lost her memory?
She is smiling alone
In the lamplight, the withered leaves collect at my feet
And the wind begins to moan
Memory, All alone in the moonlight
I can smile at the old days
I was beautiful then
I remember the time I knew what happiness was
Let the memory live again
I can smile at the old days
I was beautiful then
I remember the time I knew what happiness was
Let the memory live again
Every streetlamp seems to beat
A fatalistic warning
Someone mutters and the street lamp splutters
And soon
It will be morning
A fatalistic warning
Someone mutters and the street lamp splutters
And soon
It will be morning
Daylight
I must wait for the sunrise
I must think of a new life
And I mustn't give in.
When the dawn comes
Tonight will be a memory too
And a new day will begin
I must wait for the sunrise
I must think of a new life
And I mustn't give in.
When the dawn comes
Tonight will be a memory too
And a new day will begin
Burnt out ends of smoky days
The stale cold smell of morning
A streetlamp dies; another night is over
Another day is dawning...
A streetlamp dies; another night is over
Another day is dawning...
Touch me!
It's so easy to leave me
All alone with the memory
Of my days in the sun...
If you touch me, you'll understand what happiness is
Look, a new day has begun.
It's so easy to leave me
All alone with the memory
Of my days in the sun...
If you touch me, you'll understand what happiness is
Look, a new day has begun.
Dengan menampilkan petilan lagu [puisi] tersebut, mahasiswa menduga-duga bahwa itu adalah puisi. Saya membacakan dengan intonasi dan pelafalan laiknya sebuah puisi dengan mengukuti alur ritme, rima dan intonasi serta suara-suara lain yang saya tambahkan sendiri supaya terkesan puitis tapi bukan mempuitisasi atau bahkan mendramatisasi puisi. Karena puisi Inggris tidak akan terkesan "anker" seperti puisi Indonesia yang cenderung deklamatis. Saya harus menghindari itu supaya kesan "natural" dan "plain" dari puisi itu bisa didapatkan dengan mudah.
Kedua, saya mengajak mahasiswa memahami kandungan "dalaman" puisi [lagu] tersebut dengan hati-hati termasuk di dalamnya menyebutkan beberapa elemen seperti metaphor, imagery, symbol dan lain-lain. Ternyata mereka mamahami semua elemen di dalam puisi [lagu] tersebut. Ini didapatkan karena sebenarnya "pesan" yang ingin disampaikan penulis lirik tersebut adalah jelas dan terbuka. Setelah semua pesan dan harapan saya terpenuhi dengan teknik tersebut, saya beranjak ke langkah berikutnya.
Ketiga, saya memperdengarkan sebuah lagu "Memory" dan menayangkan petilan bait-bait di atas. Mereka tersenyum dan tertawa dengan sedikit terheran-heran. Ternyata lirik tadi adalah lagu. Lirik lagu "Memory" adalah ternyata bisa dianalisis dan diperlakukan sebagai puisi. Bukankah lagu itu berasal dari puisi yang dilagukan atau disenandungkan? Dengan alunan suara Elaine Paige, puisi tersebut menjadi lagu merdu yang indah didengar. Saya ajak mahasiswa menyanyikan bait-bait dari lagu tersebut tanpa kawalan suara asli penyanyinya dan hanya memperhatikan tayangan LCD saja.
Keempat, saya putarkan dramatisasi broadway dari Elaine Paige dari lagu terbut. Mahasiswa memperhatikan bahwa puisi tersebut bisa didramatisasi menjadi gerakan-gerakan tubuh pantomimic yang menarik sesuai dengan isi dan pesan lagu tersebut. Jadilah pertunjukan drama broadway yang menarik dari puisi itu, karena dramatisasi yang dilakukan Elaine Paige menyajikan apa yang ada dalam puisi tersebut. Kesimpulan sementara, puisi bisa didramatisasikan atau dipertunjukkan di atas panggung. Wow, puisi menjadi drama! Sungguh menarik dan saya memperagakan sendiri bernyanyi dan menampilkan raut muka seperti seseorang yang berada di dalam puisi tersebut. Mahasiswa sangat antusias dan memberikan tepuk tangan, entah karena suara saya atau karena penampilan saya yang konyol saya tidak tahu, tapi itu jelas membuat tujuan saya tercapai untuk memperkenalkan sebuah puisi yang "angker" ternyata menjadi tontonan dan garapan yang indah untuk sebuah karya seni yang memang "tingkat tinggi".
Kelima, saya mengajak mahasiswa untuk mencurahkan semua perasaan dan apa yang mereka tangkap dari apa yang sudah mereka perhatikan, dengarkan, diskusikan, tanyakan, dan pikirkan. Mereka saya minta untuk menuliskan satu lembar essay singkat dari apa yang mereka tangkap dari "puisi lagu" tadi. Keheningan menyeruak dan di akhir perkuliahan tulisan satu lembar refleksi dari kegiatan perkenalan tentang puisi tadi terkumpul. Saya mendapatkan berbagai refleksi dan buah pikiran mahasiswa tentang sebuah "puisi-lagu" "Memory", sebuah karya yang puitis, prosais, dan dramatis dari seorang penulis lagu handal era 70an, yang tidak lekang oleh waktu. Diskusi kami belum selesai dan mahasiswa akan menerima kejutan dari saya minggu depan. Saya tidak terlalu optimis dengan keberhasilan yang akan saya raih. Ini hanya sebuah perkenalan karena saya masih harus memperkenalkan Robert Frost, Edgar Allan Poe, Wordsworth, Buttler Yeats dan sederet nama beken lainnya dalam jentra puisi Inggris terkenal dan termashur. Namun dengan itu semua, saya berharap, puisi menjadi menarik dan mudah diterima mahasiswa dan bisa "keluar" dari sangkar angkernya. Selamat mencoba!
No comments:
Post a Comment