Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, February 23, 2015



Menjelang Pagi

 Oleh: Ali Mustofa

          Suara tangis perempuan muda itu memekakkan telinga semua penghuni kamar ICCU rumah sakit. Terlihat mata dan hidungnya memerah menahan isakan tangis. Suaranya parau karena tangis dan sesekali menjerit. Tidak lain adalah orang yang sedang terbaring sambil menghentak-hentakkan badannya di atas tempat tidur pasien. Nampak beberapa perawat dan seorang dokter jaga memegangi dan melakukan tindakan medis. Sesekali beberapa perawat memegangi kedua kaki dan tangan laki-laki tua.
          Aku berdiri di samping ranjang ibuku sambil memegangi tangannya yang terasa dingin karena udara AC di ruang perawatan intensif itu. Aku bisa merasakan ketidaknyamanan ibu. Sesekali aku bisikkan kata-kata,”Tidur ya, Bu. Istirahat”. Ia menganggukkan kepala dan mencoba menutup mata.
          Beberapa kali perawat mengingatkan perempuan muda itu untuk tidak terbawa emosi dan larut. Sambil menenangkan sesekali pula ia membisikkan kata-kata lembut kepada perempuan muda itu,”Sabar, Dik”. Kata-kata perawat itu tidak membuat perempuan muda itu menghentikan isakannya. Ia malah meletupkan tangisnya.
          Sang ayah terbaring sambil menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya. Ia membanting-banting tubuhnya dengan tidak sadarkan diri. Aku masih ingat beberapa hari lalu, laki-laki tua itu masih jelas bicaranya dan sesekali memesankan kata-kata bijak pada anaknya. Suaranya besar dan keras menurutku. Sesekali pula aku berkesempatan menghampiri ranjangnya untuk menyapanya. Namun yang paling membuat aku tidak bisa berhenti memikirkan laki-laki itu adalah kejadian yang dituturkan laki-laki tiga hari yang lalu. 
                                                                   **
Waktu itu sekitar jam 10.00. Tidak ada tanda-tanda perawat di ruang itu yang memanggil keluarga pesakitan untuk melayani anggota keluarganya. Aku nekat memasuki ruangan perawatan itu untuk melihat ibuku. Ruang ICCU itu seharusnya diisi sekitar tujuh orang, namun hari itu hanya terisi 3 orang, yaitu laki-laki tua itu, ibuku, dan satunya lagi adalah seorang perempuan yang belum terlalu tua menurutku. Ia menderita penyakit gagal ginjal sehingga harus dicuci darahnya setiap minggu dua kali. Oleh karena ia telat melakukan cuci darah, maka ia harus masuk ruang ICCU untuk perawatan lebih intensif. Menurut anggota keluarganya ada infeksi yang diakibatkan oleh kuman-kuman yang tidak disterilkan, sehingga ia harus menjalani perawatan intensif. Ibuku dan perempuan separuh baya itu tertidur pulas. Aku melihat laki-laki tua itu gelisah dan menengok ke kiri dan kanan tidak jelas ingin mencari siapa. Melihatku melintas di dekatnya, ia memanggilku
“Nak, bisa kemari sebentar?” panggilnya.
“Iya, Pak. Bisa saya bantu?” aku menawarinya. Ia diam sambil memandangiku. Aku menurut saja mendekatinya dan berdiri di samping tempat tidurnya.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu. Sudah lama ingin aku sampaikan tapi tidak kuat” katanya, seketika itu aku melihat perubahan wajahnya menjadi dalam dan kosong.
“Bapak ingin menyampaikan apa? Mungkin saya bisa membantu melakukan apa yang Bapak inginkan?” aku menawarinya.
“Aku ingin dadaku ini lega dan tidak sesak menghimpitku” ucapnya sambil mengelus dadanya perlahan. Aku melihat tangannya gemetar ketika memegangi dadanya yang terbuka. Separuhnya tertutup selimut yang disediakan di ruang perawatan itu. Aku menjadi bingung dan menoleh ke arah ibuku. Kudapati ibuku masih lelap, sehingga aku meneruskan untuk memandang ke arah laki-laki tua itu. Ada air mata di pelupuk matanya, tertahan, dan nampaknya tidak ingin tumpah.
“Bapak tidak apa-apa? Bapak istirahat saja ya, jangan banyak bergerak” timpalku sambil membetulkan selimut tipisnya yang sedikit melorot dari dadanya.
“Tidak, Nak” gemetar suaranya. “Sudah lama kupendam pikiran ini. Aku tidak pernah memberitahu siapapun” sergahnya. Agak bingung juga tapi aku penasaran juga apa yang ingin dia sampaikan.
“Aku tidak bercerita selama hidupku kepada siapapun, siapapun, termasuk istriku almarhum, anak-anakku, terutama Nani, anakku yang terkecil” celotehnya. Dari situ aku tahu istrinya sudah tiada dan ia memiliki lebih dari satu anak. Nani adalah perempuan muda yang sedang menungguinya di rumah sakit.
“Aku tidak ingin menyakiti hati mereka dan mengubah mereka membenciku selama hidupku. Tapi aku sudah tidak punya waktu lagi. Aku harus bicara dengan seseorang” katanya dengan suara agak serak dan mendengungkan permintaan.
“Iya, Pak. Silakan Bapak sampaikan kepada saya” lanjutku tanpa punya firasat apapun kecuali karena iba mendengar parau suara tuanya.
“Aku telah mengingkari pernikahanku dengan istriku. Aku tidak setia. Aku menghianati kesetiaan anak-anakku dan istriku yang selalu menungguku pulang malam-malam” ia mulai menggetarkan bibirnya dan suaranya parau pelan merangkaikan kata-kata yang maknanya tidak asing bagiku, tapi menjauhkanku dari dunia pemikiranku sendiri.
“Maksud Bapak apa?” tanyaku tidak paham.
“Sewaktu aku bekerja di rumah sakit sebagai sopir ambulan, aku melakukan tindakan yang tidak terpuji” katanya
“Maksud Bapak apa? Apanya yang tidak terpuji, Pak?” selidikku setengah kaget.
“Aku telah menggauli mayat. Mayat manusia. Untuk mengusir rasa takut dan sepi ketika menunggui jenazah. Sewaktu mengangkut mayat, jika kebetulan mayatnya perempuan muda, aku menggagahi mayat itu” tuturnya sambil matanya kosong menatap sudut ruangan. Aku terkejut dan setengah tidak percaya. Belum sempat aku bertanya, laki-laki tua itu meneruskan ceritanya
“Kejadian itu sering kulakukan jikalau malas pulang atau terlalu jauh jarak yang harus ditempuh untuk mengangkut peti-peti dan jenazah. Aku sadar itu perbuatan keji, tapi keinginan itu terlalu kuat” katanya setengah mengangkat kepala membetulkan posisi tidurnya. Mungkin tidak nyaman sehingga ia beringsut sedikit.
“Bapak lakukan itu dengan sadar atau tidak? Maksud saya apa Bapak sedang dalam kondisi mabuk atau apa?” tanyaku setengah menyelidiki. Ia membalas pertanyaanku,”Aku sadar”. Aku terdiam dan terpaku.
Sedikit terisak dan dengan suara lemah ia meneruskan,”Aku menyesal dan merasa berdosa pada istri dan anak-anakku. Senyum bahagia mereka selalu membayangi pikiranku setiap saat. Itulah alasanku untuk tidak buka mulut” terusnya.
“Semua berlangsung begitu cepat. Dan aku tidak membayangkan akhirnya harus seperti ini. Sekarang istriku sudah meninggal dan aku tidak punya teman lagi di dunia ini” kalimatnya tersendat oleh isakan. Aku tidak bisa memberi komentar dan tidak berani menghentikan ceritanya karena perasaanku kalut dan kacau pada waktu itu. Ia tetap saja meneruskan kisahnya
“Aku merasa berdosa. Aku menghianati istriku dan anak-anakku. Aku menghianati mereka” imbuhnya.
“Bapak tidak akan merasa berdosa kalau sudah meminta maaf” ucapku
“Aku tidak ingin menyakiti mereka. Biar aku saja yang menanggung derita akibat perbuatanku sendiri” tambahnya. Ia kemudian meraih tanganku
“Kamu bisa sampaikan dosaku ini kepada anakku, Nani. Ia permataku dan malaikatku” katanya meyakinkanku.
“Aku berdosa kepadanya” imbuhnya.
“Saya tidak akan mengatakan apa-apa, Pak” cetusku
“Katakan saja kepada dia, kalau sudah waktunya” ungkapannya membuatku bingung.
“Itu akan semakin membuat mereka dendam dan sakit hati Pak. Jadi sebaiknya Bapak tidak usah sampaikan, dan saya juga tidak akan menyampaikannya” pintaku
“Sampaikanlah, Nak. Biar pengadilanku menjadi ringan” ratapnya yang membuatku semakin merasa tidak karuan.
“Baik, Pak. Bapak istirahat ya” pintaku padanya yang kelihatan lemah dan menahan tangis tapi tidak bisa terluapkan.
“Iya, Nak. Terima kasih ya” katanya. Aku memegangi tangannya sambil berterima kasih juga kepada dia karena percaya kepadaku. Aku menyesal dan mengutuk diriku sendiri mendengar kisah laki-laki tua itu. Aku seperti tersedot dalam lingkaran pusaran kebingungan yang menyesakkan.
“Bapak boleh cerita apa saja kepada saya. Saya akan senang mendengarnya.” celetukku menenangkan dia. Aku menaruh tangan laki-laki tua itu ke sisi kasur ranjangnya. Sejenak aku melihat ke ranjang ibuku dan nampak olehku ibu telah terjaga.
                                                         ***
Sejak peristiwa itu aku tidak banyak melihat laki-laki tua itu membuka matanya. Setiap kali aku masuk ke ruangan ICCU untuk menengok ibu, nampak laki-laki tua itu tertidur. Aku juga tidak berani menyapa atau menanyakan sesuatu tentang dia. Kejadian di mana ia bercerita pengalaman hidupnya merupakan hari terakhir ia membuka matanya. Mungkin ia telah menumpahkan air mata penyesalannya untuk yang terakhir kali. Aku hanya terkejut ketika malam itu sekitar pukul 23.00 suara di dalam ruang ICCU agak ribut karena banyak perawat dan salah satu dokter jaga di dalam satu ruangan mengerubuti ranjang laki-laki itu. Aku baru datang dari luar rumah sakit mengisi perut.
Ia meronta dan memberontak ingin melepaskan diri dari pegangan para perawat. Tepat jam 02.00 pagi, kejang-kejangnya berhenti. Suara mesin pengontrol detak jantung semakin melemah dan pelan, dan akhirnya berhenti dengan satu suara tut panjang. Aku terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku rasakan pegangan tangan ibuku semakin keras menggenggam tanganku.
Ingin sekali aku melupakan cerita laki-laki tua itu, tapi pikiranku menjadi semakin berkecamuk tidak karuan. Aku berharap bisa melupakan kisahnya. Tapi seperti ada yang berbisik untuk memberitahu Nani perihal masalah itu. Tapi menurutku tidak perlu aku sampaikan karena pasti membuat Nani membenci ayahnya sendiri. Mungkin suatu hari nanti. Entah aku juga tidak tahu. Mungkin semua laki-laki ditakdirkan untuk tidak bisa terbuka dan selalu menyimpan apapun dengan rapat. Sejak itu, aku memutuskan diriku untuk menjadi pendiam.  

      




 
      

Thursday, October 23, 2014

IBU*

Oleh Hujuala Rika Ayu

Mas Susetyo tersenyum ragu-ragu sambil meletakkan gagang telepon. Agak tergagap ia mengatakan kepadaku, Ibu baru saja menelepon dari Semarang. Ibu bertanya kapan kamu akan singgah ke Semarang. Begitu kata Mas Susetyo.

Ibu. Aku hampir jengah mendengar nama itu. Kali ini ia memakai istilah ‘singgah’. Dulu, istilah ‘datang’ selalu jadi langganan untuk membujuk Mas Susetyo. Dan kemudian Mas Susetyo dengan segala kelembutan hatinya berusaha membujukku untuk mengunjungi Ibu di Semarang. Dan setiap kali itulah, dengan bermacam-macam alasan, aku menolak secara halus permintaan Ibu.

Malam itu entah mengapa tiba-tiba aku terbangun. Hatiku tergugah. Anganku kembali berputar-putar ke masa lalu. Terus begitu. Kupaksakan mataku untuk terpejam namun angan masa lalu itu selalu mendesakku untuk kembali. Pedih rasanya. Aku tidak ingin mengingat kembali masa itu. Tak terasa tiba-tiba air mata jatuh setetes demi setetes.

Ibu, maafkan aku. Maafkan anakmu. Aku tidak bisa berbakti kepadamu. Aku tahu ini salah. Salah besar. Maafkan aku, Ibu. Bukannya aku, anakmu ini, sengaja berdurhaka atau melupakan segala keluh dan kesah sekaligus pengorbanan. Tidak, Ibu. Aku akan tetap menyimpan masa itu. Maafkan aku, Ibu. Berat rasa hati mengatakan dan berbuat ini kepadamu. Aku sama sekali tidak bermaksud mengingkari kasihmu. Tapi beban hati dan endapan kesedihan yang selama ini kurasakan tidak mampu lagi kutahan.

Bait-bait doa mengalir dari bibirku tanpa kusengaja, seolah-olah menghalalkan segala rasa kebencianku pada Ibu. Rasa ini tidak seharusnya tumbuh dalam hati. Dan untuk ke sekian kalinya, aku merasakan betapa pedihnya melupakan seorang Ibu hanya karena endapan dendam dan kesedihan.

* * *
Kesibukanku di kantor hampir membantu aku menenggelamkan bayangan Ibu. Entahlah. Untuk saat ini aku memang keterlaluan. Sangat keterlaluan sampai-sampai memaafkan dan melupakan kesalahan Ibu di masa silam saja aku tak mampu. Pernikahanku tiga tahun silam yang sepi oleh canda tawa seorang anak, memang tidak dihadiri Ibu. Walau begitu, restu dari Ibu telah aku dapatkan.

“Ibu, aku akan menikah. Aku mohon doa dan restu Ibu.”

Nada suara Ibu di telepon kelihatan kaget dan seakan-akan, tanpa disuruh Ibu bertanya kepadaku kalau-kalau segala sesuatunya telah dipersiapkan sebaik mungkin.

“Ibu, untuk kali ini Ibu tidak usah repot-repot. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Mas Susetyo dan keluarga.”

“Tapi … Ibu … tidak perlukah Ibu ke Jakarta? Menengokmu barang sehari atau dua hari?”

Aku hanya diam saat itu. Desah napas dan detak jantung Ibu yang menunggu jawaban seakan-akan menambah keheningan di telepon.

“Ibu istirahat saja di rumah. Ajeng pamit, Bu.”

Hanya itu jawabanku. Dan dengan segera kututup gagang telepon. Aku tidak ingat lagi apakah saat itu aku menyesal atau tidak. Hanya rasa sedih yang tersisa. Ketidakhadiran Ibu benar-benar membuatku merasa kosong.

* * *
Kesalahan Ibu beberapa tahun silam memang sempat menggoreskan sedikit rasa dendam dalam hatiku. Hampir tidak ada rasa bimbang atau ragu bagiku saat itu untuk membenci Ibu. Imaji seorang Ibu yang ideal, yang selama masa kecil terpupuk, hangus ketika aku beranjak dewasa.

“Ibu punya pacar baru. Seorang pelukis muda dari Bali.”

Begitu kata kakakku pagi itu. Kalimat itu tercekat dalam-dalam di benakku. Kakakku hanya diam. Ia merasa bersalah mengatakan hal itu kepadaku.

“Seharusnya dari dulu aku bakar galeri itu. Seharusnya Ayah tidak usah memberi ijin Ibu untuk membangun galeri itu kalau hanya ini oleh-oleh yang dibawanya.”

Gelora muda kakak lelakiku ketika itu memuncak. Emosi kebencian yang ia rasakan pada Ibu tidak dapat ditutup-tutupinya lagi. Alhasil dua lukisan pemuda Bali itu dibakarnya habis di hadapan Ibu.

“Bagaimana dengan Ayah, Kak?”

“Tak tahulah aku. Ayah diam saja. Apalagi yang Ibu minta kali ini? Haruskah ia menyakiti Ayah dengan segala kebebasan mutlak yang telah ia peroleh?”

Ibu memang selalu begitu. Kebebasan. Kebebasan apa lagi yang ia mau? Ia selalu saja menuntut itu dari Ayah. Segala urusan tetek bengek rumah tangga, anak sampai belanja sehari-hari pun telah dibebankan sepenuhnya pada Mbok Dhar.

Puncaknya ketika galeri pribadi Ibu selesai dibangun. Idealisme Ibu membumbung memisahkan Ibu dari kami. Ibu menghabiskan seluruh waktunya di galeri itu seolah-olah keluarganya tidak ada. Hanya lukisan dan galeri di benak Ibu.

Sedangkan Ayah, seumur hidupnya ia habiskan untuk menuruti segala keinginan Ibu. Keinginan Ibu yang membabi buta. Ibumu punya bakat bagus, kenapa Ayah harus menghalangi-halangi? Bakat Ibu mengalir juga dalam darahmu dan kakakmu. Tuhan telah membagi itu untuk kalian. Ayah selalu berkata begitu jika aku protes.

Setelah peristiwa malam itu, Ayah sakit keras. Penyakit jantungnya kambuh. Kesehatannya semakin memburuk saja. Rumah kami satu-satunya, kenangan keluarga, harus dijual untuk pengeluaran rumah sakit. Kecuali galeri pribadi Ibu. Sedangkan Ibu … aku tidak tahu ke mana ia saat itu. Aku hanya peduli pada Ayah. Bibirku kerapkali terkatup erat apabila melihat selang-selang infus yang begitu rumit dan seakan-akan telah menyatu dengan sisa hidup Ayah. Tidak ada lagi koretan umpatan untuk Ibu. Hanya sedikit rasa geram dan dendam yang tertahan.

* * *
Sepeninggal Ayah, aku tinggal bersama Eyang, ibu dari Ayah, di Jakarta. Pelahan-lahan Eyang menyadarkanku bahwa Ibu hanya khilaf saja. Lupa.

“Manusia, selama ia masih bernapas dan berdetak jantung, tidak dapat lepas dari goda, Nduk. Tak terkecuali ibumu. Ibumu memang bersalah. Tapi ingat … ibumu hanya manusia.”

“Tapi Eyang … Ibu masih punya pilihan.”

“Hatimu harus benar-benar bersih dari dendam. Apalagi kepada ibumu. Kualat.”

“Memaafkan itu ibarat memberikan sesuatu yang murni kepada orang lain. Memaafkan orang lain, khususnya ibumu, akan memberikan kebebasan hati untukmu, Nduk.”

“Lalu … bagaimana dengan Eyang? Apakah Eyang akan begitu mudah memaafkan kesalahan Ibu?”

“Eyang sudah ikhlas memaafkan ibumu, Nduk.”

Hal inilah yang aku kagumi dari Eyang. Eyang memiliki kekuatan yang maha untuk memaafkan Ibu meski pada kenyataannya Eyang lebih menanggung kesedihan.

* * *
Mas Susetyo terkadang sekali atau dua kali singgah ke Semarang menengok Ibu. Seharian penuh ia menceritakan serentetan kisah tentang Ibu. Dan sesekali sedikit bujukannya untuk menjenguk Ibu terselip dalam cerita-ceritanya.

“Jeng, kemarin lukisan Ibu di beli orang Yogya. Dengar-dengar orang kraton yang beli lukisan Ibu.”

“Lukisan?”

“Iya. Lukisan lelaki Jawa zaman londo itu, lho, Jeng. Kan dulu aku sudah hampir melirik yang itu. Tapi aku kira itu hanya koleksi pribadi Ibu.”

Aku hanya menyunggingkan senyum. Ibu. Ia memang tidak pernah lepas dari lukisan. Ibaratnya air tidak dapat lepas dari aliran yang selalu membawanya ke mana pun.

“Wah … pasti lukisan Ibu dipajang di pendopo kraton ya Jeng. Gimana? Kita menengok Ibu minggu depan ya? Kasih selamat. Kamu mestinya juga berbahagia.”

Bermacam alasan untuk menghindar dari ajakan Mas Susetyo telah menjadi senjata ampuh sejak dulu. Dan begitulah mas Susetyo. Tidak pernah memaksa.

* * *
Hari ini aku tidak masuk kantor. Hampir seharian aku tidak mampu menggerakkan tubuhku. Badan serasa sakit dan pegal. Ah … seandainya ada Eyang. Ia pasti segera membuat jamu daun pepaya untuk kuminum. Setelah itu … segala rasa sakit di tubuh pasti pergi jauh-jauh. Bagaimana dengan Ibu? Apa yang akan Ibu lakukan seandainya aku sakit begini? Apa Ibu akan melakukan hal yang sama seperti Eyang? Ah … Ibu. Seandainya saja kesalahan  itu tidak pernah terjadi.

Sore hari Mas Susetyo membawaku ke dokter Prapto. Senyum dokter Prapto menumbuhkan pertanyaan dalam benakku. Rasa sakit ini tidak bakalan pulih hanya dengan senyum itu, Dok. Keluhku dalam hati. Darah menghangati tubuhku ketika dokter Prapto mengatakan ada seorang bayi tumbuh dalam rahimku. Seorang bayi.

Aku akan menjadi seorang ibu. Ibu yang baik. Jengah hatiku menemukan kata-kata itu di sela-sela benakku. Beratkah menjadi seorang Ibu yang baik? Aku ingin menjadi seorang Ibu yang ideal. Lalu bagaimana jika kelak aku melakukan kesalahan? Akankah bayi ini membenciku?

Bayangan seorang Ibu yang ideal memenuhi benakku. Seketika itu aku teringat Ibu. Akankah kelak bayi ini membenciku jika aku berbuat kesalahan? Sama seperti kebencianku pada Ibu saat ini. Bagaimana dengan Ibu? Apakah di benaknya juga selalu dipenuhi bayangan seorang ibu yang ideal? Apakah ia merasakan kepedihan dan kesepian karena kebencianku?

Tiba-tiba aku merasakan betapa kesepiannya Ibu saat ini. Peduli apa aku dengan segala kesalahan Ibu. Walau begitu ia adalah Ibuku. Keadaan tidak akan berubah seberat apa pun hukumanku padanya. Segala kesalahan Ibu adalah bagian tergelap dari dirinya yang sudah seharusnya dimaafkan dan dilupakan.***

*Cerpen ini pernah dimuat di Tabloid Nova, edisi 3 Maret 2003