Thursday, October 23, 2014

IBU*

Oleh Hujuala Rika Ayu

Mas Susetyo tersenyum ragu-ragu sambil meletakkan gagang telepon. Agak tergagap ia mengatakan kepadaku, Ibu baru saja menelepon dari Semarang. Ibu bertanya kapan kamu akan singgah ke Semarang. Begitu kata Mas Susetyo.

Ibu. Aku hampir jengah mendengar nama itu. Kali ini ia memakai istilah ‘singgah’. Dulu, istilah ‘datang’ selalu jadi langganan untuk membujuk Mas Susetyo. Dan kemudian Mas Susetyo dengan segala kelembutan hatinya berusaha membujukku untuk mengunjungi Ibu di Semarang. Dan setiap kali itulah, dengan bermacam-macam alasan, aku menolak secara halus permintaan Ibu.

Malam itu entah mengapa tiba-tiba aku terbangun. Hatiku tergugah. Anganku kembali berputar-putar ke masa lalu. Terus begitu. Kupaksakan mataku untuk terpejam namun angan masa lalu itu selalu mendesakku untuk kembali. Pedih rasanya. Aku tidak ingin mengingat kembali masa itu. Tak terasa tiba-tiba air mata jatuh setetes demi setetes.

Ibu, maafkan aku. Maafkan anakmu. Aku tidak bisa berbakti kepadamu. Aku tahu ini salah. Salah besar. Maafkan aku, Ibu. Bukannya aku, anakmu ini, sengaja berdurhaka atau melupakan segala keluh dan kesah sekaligus pengorbanan. Tidak, Ibu. Aku akan tetap menyimpan masa itu. Maafkan aku, Ibu. Berat rasa hati mengatakan dan berbuat ini kepadamu. Aku sama sekali tidak bermaksud mengingkari kasihmu. Tapi beban hati dan endapan kesedihan yang selama ini kurasakan tidak mampu lagi kutahan.

Bait-bait doa mengalir dari bibirku tanpa kusengaja, seolah-olah menghalalkan segala rasa kebencianku pada Ibu. Rasa ini tidak seharusnya tumbuh dalam hati. Dan untuk ke sekian kalinya, aku merasakan betapa pedihnya melupakan seorang Ibu hanya karena endapan dendam dan kesedihan.

* * *
Kesibukanku di kantor hampir membantu aku menenggelamkan bayangan Ibu. Entahlah. Untuk saat ini aku memang keterlaluan. Sangat keterlaluan sampai-sampai memaafkan dan melupakan kesalahan Ibu di masa silam saja aku tak mampu. Pernikahanku tiga tahun silam yang sepi oleh canda tawa seorang anak, memang tidak dihadiri Ibu. Walau begitu, restu dari Ibu telah aku dapatkan.

“Ibu, aku akan menikah. Aku mohon doa dan restu Ibu.”

Nada suara Ibu di telepon kelihatan kaget dan seakan-akan, tanpa disuruh Ibu bertanya kepadaku kalau-kalau segala sesuatunya telah dipersiapkan sebaik mungkin.

“Ibu, untuk kali ini Ibu tidak usah repot-repot. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Mas Susetyo dan keluarga.”

“Tapi … Ibu … tidak perlukah Ibu ke Jakarta? Menengokmu barang sehari atau dua hari?”

Aku hanya diam saat itu. Desah napas dan detak jantung Ibu yang menunggu jawaban seakan-akan menambah keheningan di telepon.

“Ibu istirahat saja di rumah. Ajeng pamit, Bu.”

Hanya itu jawabanku. Dan dengan segera kututup gagang telepon. Aku tidak ingat lagi apakah saat itu aku menyesal atau tidak. Hanya rasa sedih yang tersisa. Ketidakhadiran Ibu benar-benar membuatku merasa kosong.

* * *
Kesalahan Ibu beberapa tahun silam memang sempat menggoreskan sedikit rasa dendam dalam hatiku. Hampir tidak ada rasa bimbang atau ragu bagiku saat itu untuk membenci Ibu. Imaji seorang Ibu yang ideal, yang selama masa kecil terpupuk, hangus ketika aku beranjak dewasa.

“Ibu punya pacar baru. Seorang pelukis muda dari Bali.”

Begitu kata kakakku pagi itu. Kalimat itu tercekat dalam-dalam di benakku. Kakakku hanya diam. Ia merasa bersalah mengatakan hal itu kepadaku.

“Seharusnya dari dulu aku bakar galeri itu. Seharusnya Ayah tidak usah memberi ijin Ibu untuk membangun galeri itu kalau hanya ini oleh-oleh yang dibawanya.”

Gelora muda kakak lelakiku ketika itu memuncak. Emosi kebencian yang ia rasakan pada Ibu tidak dapat ditutup-tutupinya lagi. Alhasil dua lukisan pemuda Bali itu dibakarnya habis di hadapan Ibu.

“Bagaimana dengan Ayah, Kak?”

“Tak tahulah aku. Ayah diam saja. Apalagi yang Ibu minta kali ini? Haruskah ia menyakiti Ayah dengan segala kebebasan mutlak yang telah ia peroleh?”

Ibu memang selalu begitu. Kebebasan. Kebebasan apa lagi yang ia mau? Ia selalu saja menuntut itu dari Ayah. Segala urusan tetek bengek rumah tangga, anak sampai belanja sehari-hari pun telah dibebankan sepenuhnya pada Mbok Dhar.

Puncaknya ketika galeri pribadi Ibu selesai dibangun. Idealisme Ibu membumbung memisahkan Ibu dari kami. Ibu menghabiskan seluruh waktunya di galeri itu seolah-olah keluarganya tidak ada. Hanya lukisan dan galeri di benak Ibu.

Sedangkan Ayah, seumur hidupnya ia habiskan untuk menuruti segala keinginan Ibu. Keinginan Ibu yang membabi buta. Ibumu punya bakat bagus, kenapa Ayah harus menghalangi-halangi? Bakat Ibu mengalir juga dalam darahmu dan kakakmu. Tuhan telah membagi itu untuk kalian. Ayah selalu berkata begitu jika aku protes.

Setelah peristiwa malam itu, Ayah sakit keras. Penyakit jantungnya kambuh. Kesehatannya semakin memburuk saja. Rumah kami satu-satunya, kenangan keluarga, harus dijual untuk pengeluaran rumah sakit. Kecuali galeri pribadi Ibu. Sedangkan Ibu … aku tidak tahu ke mana ia saat itu. Aku hanya peduli pada Ayah. Bibirku kerapkali terkatup erat apabila melihat selang-selang infus yang begitu rumit dan seakan-akan telah menyatu dengan sisa hidup Ayah. Tidak ada lagi koretan umpatan untuk Ibu. Hanya sedikit rasa geram dan dendam yang tertahan.

* * *
Sepeninggal Ayah, aku tinggal bersama Eyang, ibu dari Ayah, di Jakarta. Pelahan-lahan Eyang menyadarkanku bahwa Ibu hanya khilaf saja. Lupa.

“Manusia, selama ia masih bernapas dan berdetak jantung, tidak dapat lepas dari goda, Nduk. Tak terkecuali ibumu. Ibumu memang bersalah. Tapi ingat … ibumu hanya manusia.”

“Tapi Eyang … Ibu masih punya pilihan.”

“Hatimu harus benar-benar bersih dari dendam. Apalagi kepada ibumu. Kualat.”

“Memaafkan itu ibarat memberikan sesuatu yang murni kepada orang lain. Memaafkan orang lain, khususnya ibumu, akan memberikan kebebasan hati untukmu, Nduk.”

“Lalu … bagaimana dengan Eyang? Apakah Eyang akan begitu mudah memaafkan kesalahan Ibu?”

“Eyang sudah ikhlas memaafkan ibumu, Nduk.”

Hal inilah yang aku kagumi dari Eyang. Eyang memiliki kekuatan yang maha untuk memaafkan Ibu meski pada kenyataannya Eyang lebih menanggung kesedihan.

* * *
Mas Susetyo terkadang sekali atau dua kali singgah ke Semarang menengok Ibu. Seharian penuh ia menceritakan serentetan kisah tentang Ibu. Dan sesekali sedikit bujukannya untuk menjenguk Ibu terselip dalam cerita-ceritanya.

“Jeng, kemarin lukisan Ibu di beli orang Yogya. Dengar-dengar orang kraton yang beli lukisan Ibu.”

“Lukisan?”

“Iya. Lukisan lelaki Jawa zaman londo itu, lho, Jeng. Kan dulu aku sudah hampir melirik yang itu. Tapi aku kira itu hanya koleksi pribadi Ibu.”

Aku hanya menyunggingkan senyum. Ibu. Ia memang tidak pernah lepas dari lukisan. Ibaratnya air tidak dapat lepas dari aliran yang selalu membawanya ke mana pun.

“Wah … pasti lukisan Ibu dipajang di pendopo kraton ya Jeng. Gimana? Kita menengok Ibu minggu depan ya? Kasih selamat. Kamu mestinya juga berbahagia.”

Bermacam alasan untuk menghindar dari ajakan Mas Susetyo telah menjadi senjata ampuh sejak dulu. Dan begitulah mas Susetyo. Tidak pernah memaksa.

* * *
Hari ini aku tidak masuk kantor. Hampir seharian aku tidak mampu menggerakkan tubuhku. Badan serasa sakit dan pegal. Ah … seandainya ada Eyang. Ia pasti segera membuat jamu daun pepaya untuk kuminum. Setelah itu … segala rasa sakit di tubuh pasti pergi jauh-jauh. Bagaimana dengan Ibu? Apa yang akan Ibu lakukan seandainya aku sakit begini? Apa Ibu akan melakukan hal yang sama seperti Eyang? Ah … Ibu. Seandainya saja kesalahan  itu tidak pernah terjadi.

Sore hari Mas Susetyo membawaku ke dokter Prapto. Senyum dokter Prapto menumbuhkan pertanyaan dalam benakku. Rasa sakit ini tidak bakalan pulih hanya dengan senyum itu, Dok. Keluhku dalam hati. Darah menghangati tubuhku ketika dokter Prapto mengatakan ada seorang bayi tumbuh dalam rahimku. Seorang bayi.

Aku akan menjadi seorang ibu. Ibu yang baik. Jengah hatiku menemukan kata-kata itu di sela-sela benakku. Beratkah menjadi seorang Ibu yang baik? Aku ingin menjadi seorang Ibu yang ideal. Lalu bagaimana jika kelak aku melakukan kesalahan? Akankah bayi ini membenciku?

Bayangan seorang Ibu yang ideal memenuhi benakku. Seketika itu aku teringat Ibu. Akankah kelak bayi ini membenciku jika aku berbuat kesalahan? Sama seperti kebencianku pada Ibu saat ini. Bagaimana dengan Ibu? Apakah di benaknya juga selalu dipenuhi bayangan seorang ibu yang ideal? Apakah ia merasakan kepedihan dan kesepian karena kebencianku?

Tiba-tiba aku merasakan betapa kesepiannya Ibu saat ini. Peduli apa aku dengan segala kesalahan Ibu. Walau begitu ia adalah Ibuku. Keadaan tidak akan berubah seberat apa pun hukumanku padanya. Segala kesalahan Ibu adalah bagian tergelap dari dirinya yang sudah seharusnya dimaafkan dan dilupakan.***

*Cerpen ini pernah dimuat di Tabloid Nova, edisi 3 Maret 2003

No comments:

Post a Comment