Showing posts with label Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Mengajar. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Krisis Literasi di Era 2.0




oleh: Pratiwi Retnaningdyah

Catatan: 

Tulisan ini saya unggah untuk merespon tulisan pak Ali Mustofa di sini. Jujur, beberapa kali saya berniat untuk menutup atau menonaktifkan beberapa akun media sosial saya. Seperti pak Ali, saya juga mengalami kegalauan akan 'gangguan' tang-ting-tung di HP saya. Entah berapa banyak grup yang saya join di whatsapp. Ini media yang paling riuh mengisi hari-hari saya. Belum lagi yang di Facebook. Juga beberapa akun blog yang saya punya. Baik untuk tulisan gado-gado, yang khusus dalam bahasa Inggris, khusus literasi, untuk ngajar, dan sekarang untuk jurusan. Begitupun saya malah mulai melirik Twitter untuk menyebarkan tulisan. Sementara ini, hanya BBM yang praktis lumayan steril. Maklum, di Australia, BBM kurang populer. Saya juga hanya membagikan pin BB kepada orang-orang terdekat. 

Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di media sosial. Pengalaman saya mengajar sebagai tutor di mata kuliah Media, Identity, and Everyday Life pada semester inilah yang membuat saya semakin melek dengan sifat media sosial. It's a double-edged sword. Juga karena penelitian saya memang beririsan dengan literasi. Maka dengan tetap hadir di media sosial, asumsi saya (mudah-mudahan benar), saya bisa mengarahkan konten yang saya tulis di sana agar tetap memberi manfaat bagi yang membaca.


Tulisan di bawah ini saya ambil dari blog pribadi saya, dengan judul yang sama. Selamat menikmati dan meninggalkan komentar. 


======


Ada yang sudah pernah nonton film The ReaderDalam film ini, Kate Winslet melakonkan peran sebagai Hanna, seorang wanita yang terancam dihukum berat dalam kasus pembantaian ratusan orang di kamp Nazi Jerman. Michael, mahasiswa hukum yang pernah ditolongnya dan sempat menjadi teman dekatnya meyakini ada satu kondisi yang akan membebaskan Hanna dari vonis berat. Sayangnya, Hanna sendiri menolak mengungkapkan ini, karena dia anggap sebagai aib moral. Aib itu adalah kenyataan bahwa dia tidak bisa membaca. Pengakuan ‘krisis literasi’ dalam hidupnya ini diyakini Hanna sebagai sumber jatuhnya harga dirinya di mata masyarakat. Itulah sebabnya Hanna melakukan serangkaiandefence mechanism untuk menjaga harga dirinya sebagai orang yang tidak bisa membaca. Dalam perjalanan cerita, Hanna memang akhirnya belajar membaca selama di tahanan. Salah satu mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pernah menggunakan novel The Reader karya Bernard Schlink (1995) dan mengangkat tema pentingnya membaca dalam kaitannya dengan self-esteem. Saya hafal karena saya ikut dalam tim pengujinya. 


Besarnya dampak  ‘krisis literasi’ secara individu sudah sering dibahas di dunia sastra. Celie dalam The Color Purple (1982) karya Alice Walker menemukan literasi sebagai kekuatan untuk pemberdayaan diri. Dalam versi filmnya, tokoh Celie dimainkan apik oleh Whoopi Goldberg. Novel dan filmnya termasuk yang paling sering saya bahas di kelas-kelas saya dulu. Masih banyak lagi karya sastra yang membahas pentingnya literasi dalam kehidupan sosial.

Di sisi lain, kita tahu bahwa krisis literasi sebenarnya bukanlah sekedar masalah pribadi, namun adalah tantangan sosial yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Di negara kita sendiri, praktis tiap hari kita mengungkapkan keprihatinan kita terhadap rendahnya budaya membaca menulis di masyarakat Indonesia. Bolehlah kita berpendapat bahwa bangsa kita tengah, atau bahkan sudah lama mengalami krisis literasi. Di seluruh dunia, perhatian terhadap perkembangan literasi memang semakin meningkat, dengan anggapan bahwa di mana-mana sedang terjadi krisis literasi. Apakah krisis yang kita bayangkan ini memang ada, dan bila iya, apakah dimaknai sama? Sebenarnya definisi krisis ini amat beragam, bergantung di mana krisis itu dianggap terjadi. 

Dalam buku Literacy and Motivation (2001), Ludo Verhoeven dan Catherine E. Snow memberikan beberapa contoh krisis literasi. Di negara-negara berkembang misalnya, istilah krisis literasi mengacu pada pentingnya peran literasi dalam pembangunan ekonomi, namun dihadapkan pada kondisi keterbatasan ketrampilan literasi di kalangan masyarakat, akses pendidikan, dan tantangan dalam menerapkan sistem pendidikan secara universal bersamaan dengan program literasi untuk orang dewasa. Bila melihat ciri-cirinya, kita harus mengakui bahwa bangsa Indonesia masuk dalam kategori ini.  Sulitnya kondisi pendidikan seperti terbatasnya jumlah guru, minimnya fasilitas, dan sulitnya menjangkau lokasi sekolah di daerah-daerah binaan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3-T) menjadi bukti lebarnya disparitas pendidikan di negara kita.

Di negara-negara maju, dengan tingkat literasi yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah Amerika bagian utara (AS dan Canada) dan Eropa, krisis literasi berarti terdapatnya ketimpangan dalam distribusi ketrampilan literasi. Hal ini disebabkan oleh lebarnya jurang penguasaan ketrampilan literasi dalam konteks pendidikan formal antara masyarakat imigran dan kelompok minoritas dengan populasi negara-negara tersebut secara keseluruhan. Bahkan di negara-negara maju yang boleh dikatakan sudah mencapai tingkat literasi yang merata, krisis literasi juga terjadi, dalam konteks ketidak-mampuan kelompok masyarakat angkatan kerja untuk menjawab tantangan teknologi canggih yang digunakan di peralatan-peralatan pekerjaan untuk jenis pekerjaan kasar sekalipun. Dengan kata lain, literasi digital di kalangan masyarakat pekerja di negara maju ada pada tingkat mengkhawatirkan.

Makna lain dari krisis literasi adalah kondisi di mana orang-orang yang secara teknis sangat ‘literate,’ dalam artian mampu membaca buku-buku yang kompleks, malah menunjukkan gejala aliterasi. Misalnya, anak-anak sekolah yang berprestasi terbukti menghabiskan waktu lebih sedikit untuk membaca dibandingkan dengan anak-anak di usia sama pada 50 tahun yang lalu; buku-buku ‘best-seller’ untuk orang dewasa tidak lagi berupa sastra berkelas, namun adalah how-to books atau fiksi murahan; dan diskusi atau obrolan bermutu tentang pengarang besar dan karya-karyanya sudah digeser oleh obrolan tentang program televisi dan software komputer.  Jujur saja, kondisi aliterasi seperti ini juga terjadi di masyarakat urban di Indonesia, dengan variasi yang lain. Yang terjadi bukanlah penurunan tingkat membaca atau pergeseran topik obrolan, namun rendahnya kebiasaan membaca di kalangan masyarakat terdidik, terutama di sekolah. Kalau karya sastra anak bangsa sendiri saja hampir tidak pernah disentuh, bagaimana mau terlibat dalam obrolan cerdas tentang sastra.

Menyedihkan memang menyadari bahwa semua makna krisis literasi di atas terjadi pada bangsa kita, mulai hulu hingga hilir, dari daerah tertinggal hingga rumah-rumah mentereng di kota besar. Krisis literasi yang terjadi di dunia ternyata lengkap tersedia di masyarakat kita, mulai tingkat functional literacy yang dibutuhkan untuk sekedar baca tulis untuk kehidupan sehari-hari dan untuk belajar di bangku sekolah, digital literacy untuk meningkatkan posisi tawar di dunia kerja, sampai critical literacy untuk mengasah sensitivitas dan kesadaran berkehidupan yang manusiawi.

Upaya untuk mengembangkan literasi memerlukan redefinisi literasi itu sendiri. Literasi bukan hanya pencapaian kognitif, dalam arti bahwa seseorang mampu membaca dan menulis. Pandangan ini akan cenderung membawa kita pada keyakinan bahwa literasi adalah tanggung-jawab sekolah. Kita perlu menyadari bahwa literasi membutuhkan komitmen secara afektif. Hanya dengan melihat makna literasi secara holistik ini kita bisa mencetak ‘pembaca aktif,’ yang punya motivasi internal untuk membaca, memahami kenikmatan dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca, dan menyediakan waktunya untuk membaca dalam keseharian. Literasi yang bernafaskan komitmen afektif sebenarnya adalah bagian dari pemikiran bahwa literasi adalah praktik sosial, yang mengandung nilai-nilai, perasaan, dan perilaku individu/masyarakat. Literasi sebagai praktik sosial, sebagai vernacular practice memiliki berbagai fungsi, untuk mengatur kehidupan sehari-hari, komunikasi personal, kesenangan pribadi, dokumentasi kehidupan pribadi, pemaknaan diri dan lingkungan, dan partisipasi sosial.  Hanya dengan melihat literasi sebagai satu praktik sosial kita bisa menemukan faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi motivasi baca-tulis, untuk kemudian bisa membentuk (kembali) peran literasi untuk meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.      

Kehadiran media dalam kehidupan sehari-hari memang mengubah hidup kita secara drastis. Lalu bagaimana kita menyiasati krisis literasi , sementara dalam keseharian kita terpapar pada media? Dunia berbasis web 2.0 seperti sekarang ini sebenarnya malah membuka banyak peluang. Sebagai orang yang sering mengamati karya seni dalam bentuk film dan dan artefak budaya lain seperti iklan dan acara TV, saya termasuk yang percaya bahwa ada konvergensi antar praktik literasi. Konsep literasi sekarang ini sudah masuk ke third wave, dengan istilah New Literacy Studies (NLS). Literasi tidak hanya terbatas pada printed form, namun juga dalam bentuk media digital. Itulah yang kemudian membuat Cultural dan Media Studies semakin beririsan dengan Literacy Studies. 

Pemanfaatan media untuk critical engagement justru sangat dianjurkan dalam proses belajar mengajar sekarang ini, terutama dengan kondisi bahwa mayoritas siswa sekolah (terutama di masyarakat urban) sudah menjadi digital natives. Di sisi lain, guru-gurunya masuk dalam golongandigital immigrants. Untuk bisa memenangkan hati mereka, memotivasi mereka untuk cinta literasi, satu-satunya cara adalah memahami cara berpikir 'digital' mereka, bukan sebaliknya, memaksa siswa masuk ke dunia 'primitif' guru-gurunya. Bukankah akan sangat menarik bila siswa/mahasiswa diajak berdiskusi tentang film atau media apapun dan melatih mereka menuliskan pandangan kritis mereka. Tidak masalah nantinya mau dituangkan bentuk print atau digital (mis. blogging). 

Media dan teknologi hadir tidak untuk mengganti buku dalam bentuk cetak, namun melengkapi pengalaman pembelajaran tatap muka. Ini juga untuk merespon kebutuhan tiap anak dalam gaya belajar yang pasti berbeda. Pemahaman guru tentang kecerdasan majemuk akan bisa memperkaya metode dan strategi pembelajaran yang dilakukan di kelas. Contoh yang saya amati di kelas English di sekolah Ganta, anak saya, di Brunswick Secondary College, versi novel dan film sama-sama dinikmati dan dibahas di kelas. Pada akhirnya, siswa tetap dituntut menghasilkan sesuatu dalam bentuk tulisan. 

Dalam kaitannya dengan digital literacy, di lapangan sebagian guru/dosen sebenarnya malah membukakan pintu teknologi bagi sebagian (maha)siswa. Semua bergantung pada masanya. Setidaknya itu yang saya alami dulu. Saya pertama kali menggunakan milis untuk forum diskusi kelas sastra saya pada tahun 2005. Tidak terlalu jalan, karena banyak yang masih belum punya email, dan tidak ngeh dengan forum milis. Pada tahun-tahun berikutnya, saya mulai pakai blog untuk posting bahan kuliah dan forum diskusi. Lumayan lancar dan engaging, meski sebagian tidak punya akun, sehingga harus nunut akun temannya bila mau posting. Saat penggunaan Facebook menjamur, saya menambah jalur, dengan menggunakan FB group khusus untuk forum diskusi. Pada titik ini, rasanya lumayan lancar jaya dan interaktif. Saya kira karena model mahasiswanya sudah beda banget. Model yang terakhir ini nampaknya yang sudah digital natives. Bahan obrolan di FB group malah kemudian bisa memperkaya diskusi di kelas, atau sebaliknya, menjadi tindak lanjut pembahasan di kelas yang belum tuntas. 

Sebagai guru, kita memang harus merangkul model pembelajaran konvensional dengan model digital. Seberapapun cinta saya dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, saya  masih menikmati romantisme memegang novel untuk mengajar kelas Prose misalnya. Rasanya nikmat ketika bisa memegang bukunya, membaca kalimat-kalimat indah dan imajinatif untuk menghidupkan suasana dramatis dan  memancing diskusi, serta tidak ribet dengan powerpoint

Pembelajaran yang holistik sudah menjadi keniscayaan. Pertanyaannya, siapkah kita sebagai guru menjawab tantangan ini? 

Sunday, October 26, 2014

Genre Transformation

oleh: Ali Mustofa

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengajarkan puisi di kelas. Hari ini saya melakukan sebuah terobosan yang saya coba kembangkan dengan pendekatan yang agak lintas disiplin. Tapi itu saya lakukan dengan sangat "terpaksa" karena nampaknya mahasiswa kurang meminati puisi dibandingkan dengan jenis karya sastra pertama yang saya berikan, prosa. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menarik dan agak "wild" adalah dengan "genre transformation".

Apa itu genre transformation? Ini adalah sebuah pendekatan yang sebenarnya sudah sangat populer di kalangan akademisi. Namun ada banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan dalam kegiatan membaca, menulis, memahami/menyimak, dan menyampaikan pesan. Dalam pendekatan dan strategi yang saya pergunakan terbukti cukup efektif dan menyenangkan bagi mahasiswa. Saya merasa mereka menghargai saya dan saya menjadi teman diskusi bagi mereka. Hanya itu harapan saya sebenarnya ketika pertama kali mengajar dan menyampaikan materi puisi ini. Saya akan memaparkan langkah-langkahnya sebagai berikut.

Pertama, saya tidak buru-buru menyajikan pengertian puisi, what does poetry mean? Itu adalah pertanyaan yang kurang lebih mengetes. Saya tidak akan bermain-main dengan pertanyaan seperti itu. That means a lot. Saya menampilkan sebuah lagu yang saya donlot dan kumpulkan dari beberapa sumber termasuk youtube. Sebuah lyric lagu lawas yang pernah dinyanyikan berturut-turut oleh Elaine Paige, Barbara Streisand dan juga Peabo Bryson. Berikut petilan lagu tersebut yang saya donlot dari internet.

...


Midnight

not a sound from the pavement
Has the moon lost her memory?
She is smiling alone
In the lamplight, the withered leaves collect at my feet
And the wind begins to moan


Memory, All alone in the moonlight
I can smile at the old days
I was beautiful then
I remember the time I knew what happiness was
Let the memory live again


Every streetlamp seems to beat
A fatalistic warning
Someone mutters and the street lamp splutters
And soon
It will be morning


Daylight
I must wait for the sunrise
I must think of a new life
And I mustn't give in.
When the dawn comes
Tonight will be a memory too
And a new day will begin

Burnt out ends of smoky days
The stale cold smell of morning
A streetlamp dies; another night is over
Another day is dawning...


Touch me!
It's so easy to leave me
All alone with the memory
Of my days in the sun...
If you touch me, you'll understand what happiness is
Look, a new day has begun.

Dengan menampilkan petilan lagu [puisi] tersebut, mahasiswa menduga-duga bahwa itu adalah puisi. Saya membacakan dengan intonasi dan pelafalan laiknya sebuah puisi dengan mengukuti alur ritme, rima dan intonasi serta suara-suara lain yang saya tambahkan sendiri supaya terkesan puitis tapi bukan mempuitisasi atau bahkan mendramatisasi puisi. Karena puisi Inggris tidak akan terkesan "anker" seperti puisi Indonesia yang cenderung deklamatis. Saya harus menghindari itu supaya kesan "natural" dan "plain" dari puisi itu bisa didapatkan dengan mudah.

Kedua, saya mengajak mahasiswa memahami kandungan "dalaman" puisi [lagu] tersebut dengan hati-hati termasuk di dalamnya menyebutkan beberapa elemen seperti metaphor, imagery, symbol dan lain-lain. Ternyata mereka mamahami semua elemen di dalam puisi [lagu] tersebut. Ini didapatkan karena sebenarnya "pesan" yang ingin disampaikan penulis lirik tersebut adalah jelas dan terbuka. Setelah semua pesan dan harapan saya terpenuhi dengan teknik tersebut, saya beranjak ke langkah berikutnya.

Ketiga, saya memperdengarkan sebuah lagu "Memory" dan menayangkan petilan bait-bait di atas. Mereka tersenyum dan tertawa dengan sedikit terheran-heran. Ternyata lirik tadi adalah lagu. Lirik lagu "Memory" adalah ternyata bisa dianalisis dan diperlakukan sebagai puisi. Bukankah lagu itu berasal dari puisi yang dilagukan atau disenandungkan? Dengan alunan suara Elaine Paige, puisi tersebut menjadi lagu merdu yang indah didengar. Saya ajak mahasiswa menyanyikan bait-bait dari lagu tersebut tanpa kawalan suara asli penyanyinya dan hanya memperhatikan tayangan LCD saja.

Keempat, saya putarkan dramatisasi broadway dari Elaine Paige dari lagu terbut. Mahasiswa memperhatikan bahwa puisi tersebut bisa didramatisasi menjadi gerakan-gerakan tubuh pantomimic yang menarik sesuai dengan isi dan pesan lagu tersebut. Jadilah pertunjukan drama broadway yang menarik dari puisi itu, karena dramatisasi yang dilakukan Elaine Paige menyajikan apa yang ada dalam puisi tersebut. Kesimpulan sementara, puisi bisa didramatisasikan atau dipertunjukkan di atas panggung. Wow, puisi menjadi drama! Sungguh menarik dan saya memperagakan sendiri bernyanyi dan menampilkan raut muka seperti seseorang yang berada di dalam puisi tersebut. Mahasiswa sangat antusias dan memberikan tepuk tangan, entah karena suara saya atau karena penampilan saya yang konyol saya tidak tahu, tapi itu jelas membuat tujuan saya tercapai untuk memperkenalkan sebuah puisi yang "angker" ternyata menjadi tontonan dan garapan yang indah untuk sebuah karya seni yang memang "tingkat tinggi".

Kelima, saya mengajak mahasiswa untuk mencurahkan semua perasaan dan apa yang mereka tangkap dari apa yang sudah mereka perhatikan, dengarkan, diskusikan, tanyakan, dan pikirkan. Mereka saya minta untuk menuliskan satu lembar essay singkat dari apa yang mereka tangkap dari "puisi lagu" tadi. Keheningan menyeruak dan di akhir perkuliahan tulisan satu lembar refleksi dari kegiatan perkenalan tentang puisi tadi terkumpul. Saya mendapatkan berbagai refleksi dan buah pikiran mahasiswa tentang sebuah "puisi-lagu" "Memory", sebuah karya yang puitis, prosais, dan dramatis dari seorang penulis lagu handal era 70an, yang tidak lekang oleh waktu. Diskusi kami belum selesai dan mahasiswa akan menerima kejutan dari saya minggu depan. Saya tidak terlalu optimis dengan keberhasilan yang akan saya raih. Ini hanya sebuah perkenalan karena saya masih harus memperkenalkan Robert Frost, Edgar Allan Poe, Wordsworth, Buttler Yeats dan sederet nama beken lainnya dalam jentra puisi Inggris terkenal dan termashur. Namun dengan itu semua, saya berharap, puisi menjadi menarik dan mudah diterima mahasiswa dan bisa "keluar" dari sangkar angkernya. Selamat mencoba! 

Wednesday, October 22, 2014

PENGALAMAN MENJADI TUTOR

oleh Pratiwi Retnaningdyah

Di paruh kedua tahun ketiga studi saya sekarang, saya harus semakin rajin ngampus untuk nulis tesis. Selain itu saya juga disibukkan dengan tugas mengajar sebagai tutor. Saya didapuk mengajar mata kuliah Media, Identity, and Everyday Life, untuk mahasiswa S1 semester 2. Mayoritas berasal dari Faculty of Arts, seperti Cultural Studies, Media and Communication, Music, atau Linguistics. Namun ada juga mahasiswa Sains. Mata kuliah (di sini disebut dengan Subject) ini memang ditawarkan sebagai breadth subject, semacam Mata Kuliah Umum (MKU), untuk mahasiswa di luar lingkup Arts.

Saya merasa beruntung karena bahan bacaan di mata kuliah ini relevan sekali dengan kajian teori tesis saya. Selain itu, saya semakin merasa bahwa satu kaki saya ada di sastra, dan kaki yang lain di media/komunikasi. Bagaimana tidak, teori-teorinya sudah lumayan saya kenal di dunia bahasa dan sastra, seperti semiotik misalnya. Namun objek yang dianalisis beralih ke iklan, film, TV, dan kehidupan sehari-hari. Tidak lagi bergulat dengan karya sastra.

Di sini perkuliahan berlangsung selama 12 minggu, dan sudah berlangsung lima kali pertemuan. Dalam sistem tutorial ini, jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah tertentu cukup besar, antara 300-400an. Perkuliahan disampaikan oleh subject coordinator di ruang besar (di sini disebut dengan theatre).  Tiap minggu tugas tutor adalah ikut perkuliahan (2 x 1 jam). Kebetulan kedua, subject coordinators adalah supervisor saya. Sementara itu, tutorial dilakukan dalam bentuk kelas kecil (15 mahasiswa). Dengan demikian butuh cukup banyak tutor untuk mata kuliah ini. Saya sendiri memegang dua kelas tutorial. Sebagai tutor selama 1 jam/kelas, tugas saya adalah memberikan latihan-latihan untuk pendalaman materi. Kadang-kadang saya perlu memberikan penjelasan ringkas materi bacaan.

                                                              Modul mata kuliah (dok. pribadi)


Mengajar lagi memang menyenangkan. Tapi saya jadi suka senewen juga. Meski cuma 2 kelas, saya harus membaca dan memahami materi, menyiapkan powerpoint singkat, dan membuat rancangan kegiatan di kelas. Maklum yang diajar mayoritas anak bule yang baru saja duduk di bangku kuliah. Bahasa Inggrisnya sih jelas pinter, tapi belum tentu paham teori yang rada melip. Lha kalau yang ngajar bukan penutur asli seperti saya (tutor yang lain mahasiswa PhD dari Aussie), kuatirnya terjadi lost in translation. Untungnya mahasiswa saya amat respectful. Selama ini belum ada ceritanya mahasiswa ngobrol sendiri atau males-malesan. Entah karena saya buat sibuk dengan tema diskusi atau praktik mini etnografi. Pokoknya saya harus mengerahkan semua jurus mengajar yang pernah saya pakai biar tidak membuat bosan.

Mungkin saking seriusnya melakukan persiapan mengajar, supervisor saya melihat saya sempat kedodoran dengan tesis. Pernah saya harus minta extension setor draft tulisan karena waktu saya tersita untuk membaca materi mengajar dan persiapan kelas. Alhamdulillah sekarang sudah mulai seimbang. 

Menekuni pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan dan sekaligus memberikan tantangan baru memang mengasyikkan. Waktu perkuliahan baru dimulai, supervisor saya bertanya apakah saya sreg dengan tugas ini. “Are you happy with this Tiwi?” Iya lah, saya boleh mengatakan bahwa mata kuliah ini ‘saya banget.’ Di beberapa topik dibahas di minggu-minggu pertama, kuliah membahas pengaruh budaya komoditas dan pembacaan iklan. Saya cukup akrab dengan topik ini. Saya pernah membahasnya di kelas teori Sastra yang saya ajar beberapa tahun yang lalu. Memang tataran analisisnya belum semendalam yang dilakukan di sini. Saat itu mahasiswa saya di prodi Sastra Inggris Unesa juga saya ajak membedah iklan melalui pisau semiotik. Nah sekarang ketemu lagi hal yang sama. Di tutorial yang saya pegang,saya mengajak mahasiswa membedah iklan yang saya gunting dari majalah. Yang menarik, ternyata ideologi atau mitos white beauty standard atau eurocentrism bertebaran di mana-mana. Mau iklan di negara Barat ataupun di tanah air. Saya tersenyum sendiri ketika mahasiswa berdiskusi dan kurang paham bagaimana membaca simbol-simbol dan menterjemahkannya ke dalam tataran ideologi. Ada kepuasan yang saya rasakan ketika akhirnya mereka bisa menangkap makna ideologisnya.

Latihan semacam ini sebenarnya adalah bagian dari critical literacy, dalam hal ini literasi media. Dalam bahasa mbak Sirikit Syah, ini adalah cara untuk mengajak masyarakat melek media. Saya lihat anak-anak semester dua di sini nampak sekali sudah terlatih berpikir kritis dan mengungkapkan pandangannya. Amat bisa dipahami sih, karena Ganta, anak saya yang di SMA kelas 12, sebenarnya sudah belajar tentang pembacaan iklan di mata pelajaran Media yang diambilnya sejak kelas 11 yang lalu. Baru minggu lalu Ganta bertanya apakah saya paham tentang ‘bullet theory’ dan ‘use-and-gratification’ theory. Hiks, anak saya sudah belajar menjadi audience yang kritis, sementara istilah-istilah itu baru saya pahami beberapa tahun terakhir.  

Dari beberapa referensi yang pernah saya baca, salah satu alasan mengapa Media menjadi mapel di SMA di Aussie (dan banyak negara lain) adalah karena gempuran media dan teknologi yang semakin tak bisa dibendung. Itulah sebabnya anak perlu dibekali ilmu dan ketrampilan agar bisa menyaring informasi secara cerdas dan kritis.

Tugas menganalisis iklan adalah tugas esai pertama yang harus disetor mahasiswa minggu depan. Sementara itu, tugas kedua sudah mulai bergulir. Cultureblogging. Ini tugas yang menurut saya enak banget. Mahasiswa bisa menjadi diri sendiri. Menulis tentang refleksi diri dalam berinteraksi dengan media dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Di Learning Management System (online learning system) sudah dipasang blog internal yang bisa diakses mahasiswa dan staf pengajar mata kuliah Media, Identity, and Everyday Life. Mahasiswa yang jumlahnya 300an lebih itu diminta menulis rutin antara minggu ke 5-12. Minimal posting 6 kali. Selain itu mereka harus aktif menengok tulisan lain dengan memberikan komentar. Jadi tidak mungkin ada ceritanya mahasiswa baru akan mengerjakan tugas di akhir semester. Pasti akan ketahuan dari tanggal posting.

Buat orang yang suka nulis, tugas seperti ini gurih banget. Tinggal menghubungkan antara praktik sehari-hari dengan bahan bacaan yang dibahas di matkul ini. Itupun tidak perlu ditulis dengan bahasa akademis. Be yourself. Saya sudah melihat tulisan-tulisan mahasiswa tentang sebelnya melihat acara X-Factor, nostalgia acara TV jaman dulu seperti Tom & Jerry, komentar kontroversial tentang sosok Nicki Minaj, dan banyak lagi. Untuk memotivasi, bahkan dosen sendiri juga posting tulisan.

Tugas Cultureblogging ini mengingatkan saya dengan pola yang pernah saya pakai di mata kuliah Cross Cultural Understanding yang saya ajar dulu. Saya meminta mahasiswa untuk menengok blog saya. Saya meminta mereka untuk membaca tulisan saya yang bertema budaya, dan menuliskan komentar mereka dalam bahasa Inggris di blog. Dari tulisan mereka, saya berasumsi bahwa hampir semua mahasiswa menikmati tugas ini (semoga benar begitu), dan komentar mereka mengandung refleksi diri juga. Yang lucu, beberapa di antaranya belum punya email saat itu. Jadilah tugas ini sekaligus memaksa mereka untuk membuka akun baru agar bisa posting. Meski begitu ada juga yang nunut akun temannya. Kalau yang model begini biasanya akan menulis, “Mam, this is …. I’m using …’s account, hehe.”

Rapinya sistem perkuliahan dengan model tutorial untuk mata kuliah content/MKU dengan jumlah mahasiswa ratusan ini membuat saya terpikir untuk bisa mengadaptasinya di Unesa nanti. Selama ini mata kuliah kelas besar cenderung diajar beberapa dosen yang ‘jalan sendiri-sendiri.’ Entah materinya sama atau tidak, apalagi asesmennya. Team teaching kadang juga tidak terlalu jalan. Di prodi Sastra, kami sebenarnya sudah mencoba merintis team teaching yang lebih solid. Bahan bacaan harus sama, meski cara mengajarnya bisa beda.  Ini yang dulu saya dan pak Khoiri selalu lakukan untuk mata kuliah yang kami ajar bareng.  

Saya sempat mengungkapkan usulan mengadaptasi model tutorial ini di grup whatsapp dosen jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Bila di sini mahasiswa PhD yang jadi tutor, maka Unesa bisa memasang dosen-dosen muda. Dengan demikian dosen muda bisa belajar dari yang lebih senior. Kan mereka harus ikut kuliah juga. Tugas mereka adalah membantu mahasiswa mendalami materi melalui latihan-latihan di kelas lebih kecil. Keuntungan yang lain, sistem pencangkokan bisa berjalan lebih efektif. Di sisi lain, dosen yang lebih senior juga didorong lebih ‘serius’ untuk terus memperbarui wawasan keilmuan dan cara mengajarnya. Ada dosen muda yang menjadi ‘audience’ mereka juga. Jangan sampai 'ngisin-ngisini' cara mengajar dan penguasaan materinya, hehe

Kajur jurusan Inggris, Pak Slamet Setiawan mendukung usulan ini. Bahkan beliau sebenarnya sudah melangkah lebih dulu. Beliau sudah mengajukan usulan ini di Unesa. Pak Slamet sendiri pernah menjadi tutor saat kuliah S3 di University of Western Australia. Aslinya saya pingin mencoba jadi tutor karena terinspirasi beliau. Pak Slamet paham betul manfaat model tutorial ini dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Jadi tutor butuh keseriusan yang sama dengan mengajar mata kuliah yang kita ampu sendiri.

Semoga pengalaman ini ada manfaatnya buat lembaga, dan sistem seperti ini bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di Unesa.

Coburg, 30 Agustus 2014