Tuesday, October 28, 2014

Krisis Literasi di Era 2.0




oleh: Pratiwi Retnaningdyah

Catatan: 

Tulisan ini saya unggah untuk merespon tulisan pak Ali Mustofa di sini. Jujur, beberapa kali saya berniat untuk menutup atau menonaktifkan beberapa akun media sosial saya. Seperti pak Ali, saya juga mengalami kegalauan akan 'gangguan' tang-ting-tung di HP saya. Entah berapa banyak grup yang saya join di whatsapp. Ini media yang paling riuh mengisi hari-hari saya. Belum lagi yang di Facebook. Juga beberapa akun blog yang saya punya. Baik untuk tulisan gado-gado, yang khusus dalam bahasa Inggris, khusus literasi, untuk ngajar, dan sekarang untuk jurusan. Begitupun saya malah mulai melirik Twitter untuk menyebarkan tulisan. Sementara ini, hanya BBM yang praktis lumayan steril. Maklum, di Australia, BBM kurang populer. Saya juga hanya membagikan pin BB kepada orang-orang terdekat. 

Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di media sosial. Pengalaman saya mengajar sebagai tutor di mata kuliah Media, Identity, and Everyday Life pada semester inilah yang membuat saya semakin melek dengan sifat media sosial. It's a double-edged sword. Juga karena penelitian saya memang beririsan dengan literasi. Maka dengan tetap hadir di media sosial, asumsi saya (mudah-mudahan benar), saya bisa mengarahkan konten yang saya tulis di sana agar tetap memberi manfaat bagi yang membaca.


Tulisan di bawah ini saya ambil dari blog pribadi saya, dengan judul yang sama. Selamat menikmati dan meninggalkan komentar. 


======


Ada yang sudah pernah nonton film The ReaderDalam film ini, Kate Winslet melakonkan peran sebagai Hanna, seorang wanita yang terancam dihukum berat dalam kasus pembantaian ratusan orang di kamp Nazi Jerman. Michael, mahasiswa hukum yang pernah ditolongnya dan sempat menjadi teman dekatnya meyakini ada satu kondisi yang akan membebaskan Hanna dari vonis berat. Sayangnya, Hanna sendiri menolak mengungkapkan ini, karena dia anggap sebagai aib moral. Aib itu adalah kenyataan bahwa dia tidak bisa membaca. Pengakuan ‘krisis literasi’ dalam hidupnya ini diyakini Hanna sebagai sumber jatuhnya harga dirinya di mata masyarakat. Itulah sebabnya Hanna melakukan serangkaiandefence mechanism untuk menjaga harga dirinya sebagai orang yang tidak bisa membaca. Dalam perjalanan cerita, Hanna memang akhirnya belajar membaca selama di tahanan. Salah satu mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pernah menggunakan novel The Reader karya Bernard Schlink (1995) dan mengangkat tema pentingnya membaca dalam kaitannya dengan self-esteem. Saya hafal karena saya ikut dalam tim pengujinya. 


Besarnya dampak  ‘krisis literasi’ secara individu sudah sering dibahas di dunia sastra. Celie dalam The Color Purple (1982) karya Alice Walker menemukan literasi sebagai kekuatan untuk pemberdayaan diri. Dalam versi filmnya, tokoh Celie dimainkan apik oleh Whoopi Goldberg. Novel dan filmnya termasuk yang paling sering saya bahas di kelas-kelas saya dulu. Masih banyak lagi karya sastra yang membahas pentingnya literasi dalam kehidupan sosial.

Di sisi lain, kita tahu bahwa krisis literasi sebenarnya bukanlah sekedar masalah pribadi, namun adalah tantangan sosial yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Di negara kita sendiri, praktis tiap hari kita mengungkapkan keprihatinan kita terhadap rendahnya budaya membaca menulis di masyarakat Indonesia. Bolehlah kita berpendapat bahwa bangsa kita tengah, atau bahkan sudah lama mengalami krisis literasi. Di seluruh dunia, perhatian terhadap perkembangan literasi memang semakin meningkat, dengan anggapan bahwa di mana-mana sedang terjadi krisis literasi. Apakah krisis yang kita bayangkan ini memang ada, dan bila iya, apakah dimaknai sama? Sebenarnya definisi krisis ini amat beragam, bergantung di mana krisis itu dianggap terjadi. 

Dalam buku Literacy and Motivation (2001), Ludo Verhoeven dan Catherine E. Snow memberikan beberapa contoh krisis literasi. Di negara-negara berkembang misalnya, istilah krisis literasi mengacu pada pentingnya peran literasi dalam pembangunan ekonomi, namun dihadapkan pada kondisi keterbatasan ketrampilan literasi di kalangan masyarakat, akses pendidikan, dan tantangan dalam menerapkan sistem pendidikan secara universal bersamaan dengan program literasi untuk orang dewasa. Bila melihat ciri-cirinya, kita harus mengakui bahwa bangsa Indonesia masuk dalam kategori ini.  Sulitnya kondisi pendidikan seperti terbatasnya jumlah guru, minimnya fasilitas, dan sulitnya menjangkau lokasi sekolah di daerah-daerah binaan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3-T) menjadi bukti lebarnya disparitas pendidikan di negara kita.

Di negara-negara maju, dengan tingkat literasi yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah Amerika bagian utara (AS dan Canada) dan Eropa, krisis literasi berarti terdapatnya ketimpangan dalam distribusi ketrampilan literasi. Hal ini disebabkan oleh lebarnya jurang penguasaan ketrampilan literasi dalam konteks pendidikan formal antara masyarakat imigran dan kelompok minoritas dengan populasi negara-negara tersebut secara keseluruhan. Bahkan di negara-negara maju yang boleh dikatakan sudah mencapai tingkat literasi yang merata, krisis literasi juga terjadi, dalam konteks ketidak-mampuan kelompok masyarakat angkatan kerja untuk menjawab tantangan teknologi canggih yang digunakan di peralatan-peralatan pekerjaan untuk jenis pekerjaan kasar sekalipun. Dengan kata lain, literasi digital di kalangan masyarakat pekerja di negara maju ada pada tingkat mengkhawatirkan.

Makna lain dari krisis literasi adalah kondisi di mana orang-orang yang secara teknis sangat ‘literate,’ dalam artian mampu membaca buku-buku yang kompleks, malah menunjukkan gejala aliterasi. Misalnya, anak-anak sekolah yang berprestasi terbukti menghabiskan waktu lebih sedikit untuk membaca dibandingkan dengan anak-anak di usia sama pada 50 tahun yang lalu; buku-buku ‘best-seller’ untuk orang dewasa tidak lagi berupa sastra berkelas, namun adalah how-to books atau fiksi murahan; dan diskusi atau obrolan bermutu tentang pengarang besar dan karya-karyanya sudah digeser oleh obrolan tentang program televisi dan software komputer.  Jujur saja, kondisi aliterasi seperti ini juga terjadi di masyarakat urban di Indonesia, dengan variasi yang lain. Yang terjadi bukanlah penurunan tingkat membaca atau pergeseran topik obrolan, namun rendahnya kebiasaan membaca di kalangan masyarakat terdidik, terutama di sekolah. Kalau karya sastra anak bangsa sendiri saja hampir tidak pernah disentuh, bagaimana mau terlibat dalam obrolan cerdas tentang sastra.

Menyedihkan memang menyadari bahwa semua makna krisis literasi di atas terjadi pada bangsa kita, mulai hulu hingga hilir, dari daerah tertinggal hingga rumah-rumah mentereng di kota besar. Krisis literasi yang terjadi di dunia ternyata lengkap tersedia di masyarakat kita, mulai tingkat functional literacy yang dibutuhkan untuk sekedar baca tulis untuk kehidupan sehari-hari dan untuk belajar di bangku sekolah, digital literacy untuk meningkatkan posisi tawar di dunia kerja, sampai critical literacy untuk mengasah sensitivitas dan kesadaran berkehidupan yang manusiawi.

Upaya untuk mengembangkan literasi memerlukan redefinisi literasi itu sendiri. Literasi bukan hanya pencapaian kognitif, dalam arti bahwa seseorang mampu membaca dan menulis. Pandangan ini akan cenderung membawa kita pada keyakinan bahwa literasi adalah tanggung-jawab sekolah. Kita perlu menyadari bahwa literasi membutuhkan komitmen secara afektif. Hanya dengan melihat makna literasi secara holistik ini kita bisa mencetak ‘pembaca aktif,’ yang punya motivasi internal untuk membaca, memahami kenikmatan dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca, dan menyediakan waktunya untuk membaca dalam keseharian. Literasi yang bernafaskan komitmen afektif sebenarnya adalah bagian dari pemikiran bahwa literasi adalah praktik sosial, yang mengandung nilai-nilai, perasaan, dan perilaku individu/masyarakat. Literasi sebagai praktik sosial, sebagai vernacular practice memiliki berbagai fungsi, untuk mengatur kehidupan sehari-hari, komunikasi personal, kesenangan pribadi, dokumentasi kehidupan pribadi, pemaknaan diri dan lingkungan, dan partisipasi sosial.  Hanya dengan melihat literasi sebagai satu praktik sosial kita bisa menemukan faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi motivasi baca-tulis, untuk kemudian bisa membentuk (kembali) peran literasi untuk meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.      

Kehadiran media dalam kehidupan sehari-hari memang mengubah hidup kita secara drastis. Lalu bagaimana kita menyiasati krisis literasi , sementara dalam keseharian kita terpapar pada media? Dunia berbasis web 2.0 seperti sekarang ini sebenarnya malah membuka banyak peluang. Sebagai orang yang sering mengamati karya seni dalam bentuk film dan dan artefak budaya lain seperti iklan dan acara TV, saya termasuk yang percaya bahwa ada konvergensi antar praktik literasi. Konsep literasi sekarang ini sudah masuk ke third wave, dengan istilah New Literacy Studies (NLS). Literasi tidak hanya terbatas pada printed form, namun juga dalam bentuk media digital. Itulah yang kemudian membuat Cultural dan Media Studies semakin beririsan dengan Literacy Studies. 

Pemanfaatan media untuk critical engagement justru sangat dianjurkan dalam proses belajar mengajar sekarang ini, terutama dengan kondisi bahwa mayoritas siswa sekolah (terutama di masyarakat urban) sudah menjadi digital natives. Di sisi lain, guru-gurunya masuk dalam golongandigital immigrants. Untuk bisa memenangkan hati mereka, memotivasi mereka untuk cinta literasi, satu-satunya cara adalah memahami cara berpikir 'digital' mereka, bukan sebaliknya, memaksa siswa masuk ke dunia 'primitif' guru-gurunya. Bukankah akan sangat menarik bila siswa/mahasiswa diajak berdiskusi tentang film atau media apapun dan melatih mereka menuliskan pandangan kritis mereka. Tidak masalah nantinya mau dituangkan bentuk print atau digital (mis. blogging). 

Media dan teknologi hadir tidak untuk mengganti buku dalam bentuk cetak, namun melengkapi pengalaman pembelajaran tatap muka. Ini juga untuk merespon kebutuhan tiap anak dalam gaya belajar yang pasti berbeda. Pemahaman guru tentang kecerdasan majemuk akan bisa memperkaya metode dan strategi pembelajaran yang dilakukan di kelas. Contoh yang saya amati di kelas English di sekolah Ganta, anak saya, di Brunswick Secondary College, versi novel dan film sama-sama dinikmati dan dibahas di kelas. Pada akhirnya, siswa tetap dituntut menghasilkan sesuatu dalam bentuk tulisan. 

Dalam kaitannya dengan digital literacy, di lapangan sebagian guru/dosen sebenarnya malah membukakan pintu teknologi bagi sebagian (maha)siswa. Semua bergantung pada masanya. Setidaknya itu yang saya alami dulu. Saya pertama kali menggunakan milis untuk forum diskusi kelas sastra saya pada tahun 2005. Tidak terlalu jalan, karena banyak yang masih belum punya email, dan tidak ngeh dengan forum milis. Pada tahun-tahun berikutnya, saya mulai pakai blog untuk posting bahan kuliah dan forum diskusi. Lumayan lancar dan engaging, meski sebagian tidak punya akun, sehingga harus nunut akun temannya bila mau posting. Saat penggunaan Facebook menjamur, saya menambah jalur, dengan menggunakan FB group khusus untuk forum diskusi. Pada titik ini, rasanya lumayan lancar jaya dan interaktif. Saya kira karena model mahasiswanya sudah beda banget. Model yang terakhir ini nampaknya yang sudah digital natives. Bahan obrolan di FB group malah kemudian bisa memperkaya diskusi di kelas, atau sebaliknya, menjadi tindak lanjut pembahasan di kelas yang belum tuntas. 

Sebagai guru, kita memang harus merangkul model pembelajaran konvensional dengan model digital. Seberapapun cinta saya dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, saya  masih menikmati romantisme memegang novel untuk mengajar kelas Prose misalnya. Rasanya nikmat ketika bisa memegang bukunya, membaca kalimat-kalimat indah dan imajinatif untuk menghidupkan suasana dramatis dan  memancing diskusi, serta tidak ribet dengan powerpoint

Pembelajaran yang holistik sudah menjadi keniscayaan. Pertanyaannya, siapkah kita sebagai guru menjawab tantangan ini? 

Budaya "Whatsapp", Frost "Mending Wall" dan Beyonce "Halo"

 Oleh: Ali Mustofa

Dunia kita sudah terlalu banyak dipenuhi peralatan elektronik serba canggih. Salah satu yang dekat dengan diri manusia, bahkan menjadi teman paling dekat di saat tidur sekalipun, adalah telepon genggam. Dengan berbagai macam fitur unggulan yang ditawarkan, telepon genggam menjadi alat kehidupan manusia paling sering dipergunakan mengalahkan peralatan hidup lain seperti alat pertanian, alat tenun, alat memasak dan alat-alat bekerja sehari-hari lainnya. Karena frekwensi pemakaian alat komunikasi ini sudah melampaui batas maksimal interaksi manusia dengan alat-alat kehidupan lainnya, maka banyak penelitian yang bernada sinis dan bernada menenangkan "mengada-ada", bahkan "merekayasa" dampak yang dapat diakibatkan karena terlalu sering terpapar alat komunikasi telepon genggam.


Bila kita berjalan-jalan di trotoar negara-negara maju seperti Perancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok dan lainnya, maka kita akan menjumpai pemandangan yang sama. Hampir semua pengguna jalan sibuk memandangi telepon genggam mereka yang besarnya sudah tidak sebesar genggaman telapak tangan lagi, namun bisa lebih besar dari itu. Sambil berjalan mereka memandangi telepon yang mirip bentuknya dengan buku catatan. Evolusi telepon genggam ini membawa dampak yang lain lagi, yaitu pindahnya dunia hiburan yang dulu hanya dapat disajikan televisi dan bioskop, ke dalam alat tersebut. Semakin sempit dunia tempat manusia yang luas, dan semakin luas dunia genggaman alat komunikasi di tangan pemakainya.

Tiga hari yang lalu saya terkejut karena bunyi telepon genggam android saya berbunyi khas mengisyaratkan masuknya pesan dari whatsapp. Saya anggap biasa saja karena sudah terlalu sering menerima pesan lewat fitur itu dari banyak teman dan kelompok teks wicara yang berbeda-beda. Setelah lama saya biarkan, saya agak terganggu juga dengan suaranya yang berkali-kali bunyi. Saya membuka fitur itu dan ternyata bukan dari teman-teman prodi atau teman-teman dari kelompok wicara saya yang lain, melainkan dari group teman SMA saya. Saya lihat beberapa tampilan nomor telepon genggam bermunculan dengan diikuti nama pemiliknya yang sudah tidak asing beberapa bagi saya dan ada yang sudah berganti menjadi agak asing dan aneh menurut saya.

 Saya ikuti saja apa yang mereka bicarakan dan diskusikan. Ternyata hanya masalah-masalah sepele saja dan tidak terlalu penting. Namun ada sebuah nama yang memang sudah ada sebelumnya di phonebook saya, Erwin, sahabat saya di SMA sejak kelas satu. Dia menulis nama saya dengan gaya khas dia memanggil saya seperti kalau bertatap muka: "ALiiiiiiiiiiiiiii......kangeeeeeeennnnnn..... gambarnya pp mu aaaaaaaaaallll... kereeeeeeeennnnn......".  Aku balas seadanya saja: "Opo win....?" dengan agak malas.  Sambutanku justru mendapat tanggapan dari anggota kelompok pesan teks itu saling bersautan. Ada yang menanyakan pekerjaanku apa, tinggal di mana, sudah punya istri berapa, sudah punya anak berapa, sudah pernah menghamili anak tetangga berapa kali, sampai sudah minum alkohol dari merk apa saja... Saya terhenyak dan terheran-heran. Apa betul ini kelompok manusia yang terdidik dan "terliterasi" oleh alat canggih bernama telepon genggam?

Saya beranikan diri membuka diskusi dan memberi pertanyaan singkat-singkat dan terkesan dingin-dingin saja. Saya lebih banyak memberi jawaban pertanyaan sahabat saya saja daripada yang lain karena pertanyaan mereka membuat saya menjadi "a total stranger" di dunia SMA [masa lalu] yang sebenarnya telah membesarkan saya. Namun saya harus jujur saya menjadi terasing dengan dunia yang dibawa oleh sahabat saya itu. Dunia saya sudah jauh terpencil dari dunia teman-teman sekolah saya dulu. Saya menjadi makhluk asing bernama "Ali-en" yang teralienasi dalam kesendirian saya yang tidak bisa menikmati dunia kelompok wicara whatsapp itu. Semua teman-teman di dunia kecil yang besar itu seolah-olah bertanya pada saya: "whatssup [Doc] dodol?", "Loe oon ya?". Saya tersadar ketika sahabat saya menyapa: "Al, kapan main ke rumahku? Aku kangen traktiranmu, al". Saya jawab seadanya dan sekenanya saja, tapi teman-teman sahabat saya malah menuduh dan melontarkan cemoohan pada saya dan sahabat saya: "kalian homo ya?","Cie cie... cinta lama bersemi kembali", "Win, sejak kapan kamu dodol dodolan sama ali... padahal dulu kamu maunya sama aku...", dan sebagainya yang disambut tawa-tawa ikonis yang menggelitik dan agak hambar nadanya.

Saya akhirnya melakukan komunikasi secara pribadi dengan sahabat saya. Saya mengutarakan keinginan saya kepadanya bahwa saya akan menarik diri dan tidak ingin bergabung lagi. Saya tidak mau bergabung dengan alasan saya sibuk dan sebagainya dan pasti nantinya tidak aktif. Dengan berat hati sahabat saya itu melepaskan pernyataan:"Okee al... ya sudah gak papa kamu leave saja. Kita komunikasi pribadi dan BBM an saja ya". Jawaban sahabat saya melegakan dan membuat saya melemas mendesahkan nafas panjang.

Apa yang saya alami dan rasakan dalam menaungi dunia kecil bernama whatssapp, membuat saya teringat pada puisi Robert Frost "Mending Wall". Beberapa petilan di situ yang cukup membuat saya tersinggung dan sakit hati sekaligus sadar diri adalah ungkapan-ungkapan:



                 I have come after them and made repair
                Where they have left not one stone on a stone,
                But they would have the rabbit out of hiding,
                To please the yelping dogs

                The gaps I mean,
                ....
              
               No one has seen them made or heard them made,
               But at spring mending-time we find them there.
               I let my neighbor know beyond the hill;
             And on a day we meet to walk the line
             And set the wall between us once again

             ...

         
Petilan-petilan Frost membuat saya tersadar akan batas-batas yang saya ciptakan. Kesadaran saya akan batas-batas itu membuat saya merasa asing dengan dunia saya sendiri sebenarnya. Saya terbelalak dan "... blinking like an owl surprised by daylight..." (Gallsworthy, "Quality"). Saya tersudut dan tersadar seperti seekor kelinci yang ketakutan karena gonggongan anjing pemburu yang ganas dan kejam. keluarnya saya dari kelompok wicara teks itu akhirnya membangun tembok saya lagi sekali lagi dengan teman-teman saya karena saya merasa kenyamanan saya terancam. Kehidupan pribadi saya di masa lalu akan terancam, kenyamanan saya dengan keberadaan saya akan terusik dengan "ketidakliterasian" mereka yang mengganggu jangkauan "imaji" saya yang sudah terlalu sesak dipenuhi imaji-imaji Frost, Poe, Wordsworth, Yeats, Keats, Howthorne, Hardy dan lain-lain yang serba indah dan menghibur daripada imaji-imaji yang menabrak indera saya yang ditimbulkan karena memahami ungkapan-ungkapan singkat teman-teman lama yang terdidik oleh kesadaran semu paket literasi android.  Saya memilih diam dan tidak berkomentar. Saya tinggalkan kelompok wicara teks dan sahabat saya yang menurut saya sudah jauh melesat meninggalkan bumi saya yang gersang melaju melandas ke planet mereka sendiri, sementara saya hanya terpaku di tempat berpijak semula dan mendapati diri rapuh tidak bisa mengubah atau bahkan saya diubah oleh keadaan karena saya dinafikan dan di-nul-kan karena tidak bisa mengikuti gaya berwicara teks ala mereka. Saya benar-benar nir-literasi-android. 

Kediaman yang saya ciptakan dan batas yang saya bangun sekali lagi, mengikuti alur Frost, merupakan bentuk protes saya dan ketidaksetujuan literasi ala android yang tidak punya pakem dan aturan yang ber-skala dan ber-niskala. Dunia android adalah dunia on and off.  Dunia dalam batas antara ada dan tiada. Sebagai manusia kita harus bisa membuatnya harmonis dan saling menutupi, bukan dibiarkan terbuka dan tidak membangun sebuah peradaban [istilah Frost "walling in and walling out" itu sangat tepat] dunia digital yang terdeteksi dan terliterasi. Dalam genggaman, android menjadi dunia dalam wilayah "walling in" yang kejam dan menghakimi serta tanpa pernah bisa digugat karena sifat individunya. Untuk membuatnya menjadi "walling out" sesuai kehendak saya, akhinya saya membangun tembok saya sendiri, "to mend my own wall", yang akhirnya saya harus "mending wall". 

Untuk sahabat saya yang setia, bukan berarti saya membangun tembok antara kita dan membuat batasan-batasan yang menjauhkan kamu dari saya. Saya tidak melakukan itu dan saya tidak akan pernah meninggalkan kamu di luar sana di dunia yang serba nir-literasi yang menjauhkan kita dari kata-kata halus, sopan, santun, bermartabat, bersahaja, dan menyejukkan pupuk rumput hijau persahabatan kita, yang telah kita kumpulkan selama masa sekolah dan selama umur persahabatan kita. Ingatlah lagu terakhir yang kita senandungkan bersama setahun yang lalu di karaoke keluarga bersama teman-teman: "Halo" Beyonce Knowless. Namun ingatlah, dinding yang keras yang diam itu juga bisa runtuh karena "keangkuhan" hujan, angin, panas, dingin dan serba ketidakmenentuan di luar sana. Mereka [dinding-dinging kita] berdekatan erat dan tidak bertengkar, "they didn't even put up a fight, they didn't even make a sound", namun ternyata bisa ambrol juga kan? Kamu telah terhipnotis kekuatan sihir kata-kata nir-literasi android yang mereka miliki. Android mu dan android merekalah yang memisahkan kita.

Tapi saya akan mencari cara untuk membuat sahabat saya masuk dalam dunia saya, masuk ke dalam dinding yang saya bangun sendiri dengan sentuhan kekuatan dan kerapatan ala saya. No matter what. Karena persahabatan itu lebih penting, mengalahkan dan melampaui batas-batas kemusykilan serta keraguan. Saya akan berjuang untuk mendapatkan, menyelamatkan, dan menggandeng tangan sahabat saya itu karena saya tahu dia tidak seharusnya di dunia whatssup nir-literasi yang bergelimang ketidakpastian dan rentan tersihir imaji-imaji semu yang menghancurkan dan menjauhkan saya dengan dia. I am never gonna shut you out!  

                                                                    ----@li---- 




 

Monday, October 27, 2014

Sosialisasi FMIPA Menulis

Oleh: Much. Khoiri

Gerbong kereta literasi mulai bergerak di FMIPA Unesa. Sosialisasi FMIPA Menulis (tagline-nya: Dengan menulis kita bisa meraih mimpi) telah digelar pada Minggu (26/10), diikuti sekitar 400 mahasiswa, terasa menggetarkan hati. Antusiasme peserta seakan memenuhi seisi aula fakultas itu.

Antusiasme mereka sudah terpancar saat didatangi Dekan FMIPA Prof. Dr. Suyono, M.Pd, sesaat sebelum acara dimulai. Pancaran itu makin kentara tatkala PD-3 Dr. Tatag Yuli Setyo memberikan sambutan. Kehadiran dua pejabat ini menjadi daya penggerak bagi mahasiswa.

“Tolong bimbing mahasiswa untuk menulis yang bagus,” begitu pesan Pak Dekan yang gemar menulis itu kepada saya. Maksudnya, mahasiswa perlu dihangatkan semangat menulisnya. Mereka juga harus paham, selain karya ilmiah, mahasiswa perlu belajar menulis karya semi-ilmiah atau karya populer.

Hal ini sejalan dengan isi sambutan Pak Tatag yang murah senyum itu. Setelah memaparkan tujuan sosialisasi dan pernik-perniknya, Pak Tatag menandaskan, “Bersama Pak Khoiri, kalian akan belajar menulis sesuai minat masing-masing, baik fiksi maupun non-fiksi. Kita akan hasilkan tulisan yang cukup untuk menghidupi majalah mahasiswa. Syukur-syukur, secara pribadi, setiap mahasiswa membuat blog setelah ini.”

Begitulah, sebelum saya masuk ke sesi saya pun, antusiasme mahasiswa telah digugah dan dibangkitkan. Terlebih, setelah itu, saya memberikan hadiah buku sayaJejak Budaya Meretas Peradaban bagi mereka yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan warming-up saya. Siapa pengarang Tenggelamnya Kapal Van Der Wick? Sebutkan novel Asma Nadia yang disinetronkan? Wow, ternyata, ada mahasiswa yang menjawabnya dengan lancar. Buku pun berpindah tangan.

Kemudian, mengingat temanya sosialisasi, dengan tujuan memotivasi mereka menulis, saya tak perlu ndakik-ndakik dalam menyampaikan materi. Saya turun dari mimbar yang setinggi 1 mater itu, dan berdiri selantai dengan mereka (terlebih, mereka yang 400-an itu lesehan di lantai), dan mengisahkan bagaimana saya menekuni dunia tulis-menulis, mulai sejak tahun 1986/1987 saya belajar menembus media massa hingga kini.

Tak lupa saya paparkan sekilas tentang terbitnya sejumlah buku, baik sebagai editor maupun penulis solo. (Tentu ini buku-buku yang di luar buku ajar, anggaplah “beyond” buku akademik.) Saya kisahkan lahirnya kumcer Ndoro, Saya Ingin Bicara (2011), kumpuis  GUGAT (2012), buku  Suara Guru untuk Bangsa dan Empati Guru untuk Bangsa (Editor, 2012),  buku 36 Kompasianer Merajut Indonesia (2013), dan masuknya cerpen ke kumcer Adam Panjalu (Ed. Faradina Izdhihary,  2013).  

Lalu di ujung 2013, bersama alumni Unesa, menerbitkan antologi Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi (Ed. Eko Prasetyo, 2013),   menjadi penulis dan editor buku anyar Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku (2014, PT Revka Petra Media), dan serta editor buku terbaru Muchlas Samani: Aksi dan Inspirasi(2014, Unesa University Press). Buku solo terbaru: Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014Jalindo-SatuKata). Ikut menyumbang tulisan untuk antologi Pancasila Rumah Kita Bersama (2014, Peniti Media), juga untuk buku prosiding Membangun Budaya Literasi (2014).

Tentu, demonstrasi buku itu semata-mata untuk meyakinkan mereka, bahwa menulis bisa dilakukan, meski ada berbagai kesibukan yang harus dituntaskan. Memang tidak mudah untuk selalu menulis, terlebih setiap hari. Harus ada niat mewajibkan diri untuk menunaikan kewajiban ini—di samping kewajiban membaca dan mengkaji (Iqra). Niat itu pun harus ditunjang pembiasaan diri. Practice makes all things perfect.

Begitulah, saya hanya menggugah semangat mahasiswa saja kali ini. Setelah sosialisasi ini, para pendaftar akan dikelompokkan menjadi kelas-kelas peminatan, misalnya kelas cerpen, puisi, artikel, esai, biografi, dan sebagainya. Jika peminatnya banyak, amat boleh jadi, akan dibutuhkan tutor dan fasilitator yang ahli di bidangnya.

Mengapa demikian? Dalam sesi tanya jawab, ajaibnya, pertanyaan mereka justru berkisar tentang karya kreatif. Dalam menulis cerpen, misalnya, bagaimana teknik membuat pembukaan dan penutup yang jitu? Bagaimana menciptakan penokohan yang bagus sehingga cerita sukses? Bagaimana puisi dibuat agar benar-benar berhasil? Dan sebagainya.

Tentu saja, mudah-mudahan itikad para pejabat dekanat MIPA yang juga gemar menulis itu menemukan buktinya dalam waktu dekat. Karena para pejabat telah memberikan teladan dalam menulis, kini saatnya mahasiswa peserta sosialisasi ini meneladaninya. Hanya dengan demikian, gerakan mahasiswa FMIPA Menulis menemukan konteks dan maknanya.***