Menjelang Pagi
Oleh: Ali Mustofa
Suara tangis perempuan muda itu memekakkan telinga semua
penghuni kamar ICCU rumah sakit. Terlihat mata dan hidungnya memerah menahan
isakan tangis. Suaranya parau karena tangis dan sesekali menjerit. Tidak lain
adalah orang yang sedang terbaring sambil menghentak-hentakkan badannya di atas
tempat tidur pasien. Nampak beberapa perawat dan seorang dokter jaga memegangi
dan melakukan tindakan medis. Sesekali beberapa perawat memegangi kedua kaki
dan tangan laki-laki tua.
Aku berdiri di samping ranjang ibuku sambil memegangi
tangannya yang terasa dingin karena udara AC di ruang perawatan intensif itu.
Aku bisa merasakan ketidaknyamanan ibu. Sesekali aku bisikkan kata-kata,”Tidur
ya, Bu. Istirahat”. Ia menganggukkan kepala dan mencoba menutup mata.
Beberapa kali perawat mengingatkan perempuan muda itu untuk
tidak terbawa emosi dan larut. Sambil menenangkan sesekali pula ia membisikkan
kata-kata lembut kepada perempuan muda itu,”Sabar, Dik”. Kata-kata perawat itu
tidak membuat perempuan muda itu menghentikan isakannya. Ia malah meletupkan
tangisnya.
Sang ayah terbaring sambil menggerak-gerakkan kedua tangan
dan kakinya. Ia membanting-banting tubuhnya dengan tidak sadarkan diri. Aku
masih ingat beberapa hari lalu, laki-laki tua itu masih jelas bicaranya dan
sesekali memesankan kata-kata bijak pada anaknya. Suaranya besar dan keras
menurutku. Sesekali pula aku berkesempatan menghampiri ranjangnya untuk
menyapanya. Namun yang paling membuat aku tidak bisa berhenti memikirkan
laki-laki itu adalah kejadian yang dituturkan laki-laki tiga hari yang lalu.
**
Waktu
itu sekitar jam 10.00. Tidak ada tanda-tanda perawat di ruang itu yang
memanggil keluarga pesakitan untuk melayani anggota keluarganya. Aku nekat
memasuki ruangan perawatan itu untuk melihat ibuku. Ruang ICCU itu seharusnya
diisi sekitar tujuh orang, namun hari itu hanya terisi 3 orang, yaitu laki-laki
tua itu, ibuku, dan satunya lagi adalah seorang perempuan yang belum terlalu
tua menurutku. Ia menderita penyakit gagal ginjal sehingga harus dicuci
darahnya setiap minggu dua kali. Oleh karena ia telat melakukan cuci darah,
maka ia harus masuk ruang ICCU untuk perawatan lebih intensif. Menurut anggota
keluarganya ada infeksi yang diakibatkan oleh kuman-kuman yang tidak
disterilkan, sehingga ia harus menjalani perawatan intensif. Ibuku dan
perempuan separuh baya itu tertidur pulas. Aku melihat laki-laki tua itu
gelisah dan menengok ke kiri dan kanan tidak jelas ingin mencari siapa. Melihatku
melintas di dekatnya, ia memanggilku
“Nak,
bisa kemari sebentar?” panggilnya.
“Iya,
Pak. Bisa saya bantu?” aku menawarinya. Ia diam sambil memandangiku. Aku
menurut saja mendekatinya dan berdiri di samping tempat tidurnya.
“Aku
ingin menyampaikan sesuatu. Sudah lama ingin aku sampaikan tapi tidak kuat”
katanya, seketika itu aku melihat perubahan wajahnya menjadi dalam dan kosong.
“Bapak
ingin menyampaikan apa? Mungkin saya bisa membantu melakukan apa yang Bapak
inginkan?” aku menawarinya.
“Aku
ingin dadaku ini lega dan tidak sesak menghimpitku” ucapnya sambil mengelus
dadanya perlahan. Aku melihat tangannya gemetar ketika memegangi dadanya yang
terbuka. Separuhnya tertutup selimut yang disediakan di ruang perawatan itu.
Aku menjadi bingung dan menoleh ke arah ibuku. Kudapati ibuku masih lelap,
sehingga aku meneruskan untuk memandang ke arah laki-laki tua itu. Ada air mata
di pelupuk matanya, tertahan, dan nampaknya tidak ingin tumpah.
“Bapak
tidak apa-apa? Bapak istirahat saja ya, jangan banyak bergerak” timpalku sambil
membetulkan selimut tipisnya yang sedikit melorot dari dadanya.
“Tidak,
Nak” gemetar suaranya. “Sudah lama kupendam pikiran ini. Aku tidak pernah
memberitahu siapapun” sergahnya. Agak bingung juga tapi aku penasaran juga apa
yang ingin dia sampaikan.
“Aku
tidak bercerita selama hidupku kepada siapapun, siapapun, termasuk istriku
almarhum, anak-anakku, terutama Nani, anakku yang terkecil” celotehnya. Dari
situ aku tahu istrinya sudah tiada dan ia memiliki lebih dari satu anak. Nani
adalah perempuan muda yang sedang menungguinya di rumah sakit.
“Aku
tidak ingin menyakiti hati mereka dan mengubah mereka membenciku selama hidupku.
Tapi aku sudah tidak punya waktu lagi. Aku harus bicara dengan seseorang”
katanya dengan suara agak serak dan mendengungkan permintaan.
“Iya,
Pak. Silakan Bapak sampaikan kepada saya” lanjutku tanpa punya firasat apapun
kecuali karena iba mendengar parau suara tuanya.
“Aku
telah mengingkari pernikahanku dengan istriku. Aku tidak setia. Aku menghianati
kesetiaan anak-anakku dan istriku yang selalu menungguku pulang malam-malam” ia
mulai menggetarkan bibirnya dan suaranya parau pelan merangkaikan kata-kata
yang maknanya tidak asing bagiku, tapi menjauhkanku dari dunia pemikiranku
sendiri.
“Maksud
Bapak apa?” tanyaku tidak paham.
“Sewaktu
aku bekerja di rumah sakit sebagai sopir ambulan, aku melakukan tindakan yang
tidak terpuji” katanya
“Maksud
Bapak apa? Apanya yang tidak terpuji, Pak?” selidikku setengah kaget.
“Aku
telah menggauli mayat. Mayat manusia. Untuk mengusir rasa takut dan sepi ketika
menunggui jenazah. Sewaktu mengangkut mayat, jika kebetulan mayatnya perempuan
muda, aku menggagahi mayat itu” tuturnya sambil matanya kosong menatap sudut
ruangan. Aku terkejut dan setengah tidak percaya. Belum sempat aku bertanya,
laki-laki tua itu meneruskan ceritanya
“Kejadian
itu sering kulakukan jikalau malas pulang atau terlalu jauh jarak yang harus ditempuh
untuk mengangkut peti-peti dan jenazah. Aku sadar itu perbuatan keji, tapi
keinginan itu terlalu kuat” katanya setengah mengangkat kepala membetulkan
posisi tidurnya. Mungkin tidak nyaman sehingga ia beringsut sedikit.
“Bapak
lakukan itu dengan sadar atau tidak? Maksud saya apa Bapak sedang dalam kondisi
mabuk atau apa?” tanyaku setengah menyelidiki. Ia membalas pertanyaanku,”Aku
sadar”. Aku terdiam dan terpaku.
Sedikit
terisak dan dengan suara lemah ia meneruskan,”Aku menyesal dan merasa berdosa
pada istri dan anak-anakku. Senyum bahagia mereka selalu membayangi pikiranku
setiap saat. Itulah alasanku untuk tidak buka mulut” terusnya.
“Semua
berlangsung begitu cepat. Dan aku tidak membayangkan akhirnya harus seperti
ini. Sekarang istriku sudah meninggal dan aku tidak punya teman lagi di dunia
ini” kalimatnya tersendat oleh isakan. Aku tidak bisa memberi komentar dan
tidak berani menghentikan ceritanya karena perasaanku kalut dan kacau pada
waktu itu. Ia tetap saja meneruskan kisahnya
“Aku
merasa berdosa. Aku menghianati istriku dan anak-anakku. Aku menghianati
mereka” imbuhnya.
“Bapak
tidak akan merasa berdosa kalau sudah meminta maaf” ucapku
“Aku
tidak ingin menyakiti mereka. Biar aku saja yang menanggung derita akibat
perbuatanku sendiri” tambahnya. Ia kemudian meraih tanganku
“Kamu
bisa sampaikan dosaku ini kepada anakku, Nani. Ia permataku dan malaikatku”
katanya meyakinkanku.
“Aku
berdosa kepadanya” imbuhnya.
“Saya
tidak akan mengatakan apa-apa, Pak” cetusku
“Katakan
saja kepada dia, kalau sudah waktunya” ungkapannya membuatku bingung.
“Itu
akan semakin membuat mereka dendam dan sakit hati Pak. Jadi sebaiknya Bapak
tidak usah sampaikan, dan saya juga tidak akan menyampaikannya” pintaku
“Sampaikanlah,
Nak. Biar pengadilanku menjadi ringan” ratapnya yang membuatku semakin merasa
tidak karuan.
“Baik,
Pak. Bapak istirahat ya” pintaku padanya yang kelihatan lemah dan menahan tangis
tapi tidak bisa terluapkan.
“Iya,
Nak. Terima kasih ya” katanya. Aku memegangi tangannya sambil berterima kasih
juga kepada dia karena percaya kepadaku. Aku menyesal dan mengutuk diriku
sendiri mendengar kisah laki-laki tua itu. Aku seperti tersedot dalam lingkaran
pusaran kebingungan yang menyesakkan.
“Bapak
boleh cerita apa saja kepada saya. Saya akan senang mendengarnya.” celetukku
menenangkan dia. Aku menaruh tangan laki-laki tua itu ke sisi kasur ranjangnya.
Sejenak aku melihat ke ranjang ibuku dan nampak olehku ibu telah terjaga.
***
Sejak
peristiwa itu aku tidak banyak melihat laki-laki tua itu membuka matanya.
Setiap kali aku masuk ke ruangan ICCU untuk menengok ibu, nampak laki-laki tua
itu tertidur. Aku juga tidak berani menyapa atau menanyakan sesuatu tentang
dia. Kejadian di mana ia bercerita pengalaman hidupnya merupakan hari terakhir
ia membuka matanya. Mungkin ia telah menumpahkan air mata penyesalannya untuk yang
terakhir kali. Aku hanya terkejut ketika malam itu sekitar pukul 23.00 suara di
dalam ruang ICCU agak ribut karena banyak perawat dan salah satu dokter jaga di
dalam satu ruangan mengerubuti ranjang laki-laki itu. Aku baru datang dari luar
rumah sakit mengisi perut.
Ia
meronta dan memberontak ingin melepaskan diri dari pegangan para perawat. Tepat
jam 02.00 pagi, kejang-kejangnya berhenti. Suara mesin pengontrol detak jantung
semakin melemah dan pelan, dan akhirnya berhenti dengan satu suara tut panjang.
Aku terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku rasakan pegangan tangan ibuku
semakin keras menggenggam tanganku.
Ingin
sekali aku melupakan cerita laki-laki tua itu, tapi pikiranku menjadi semakin
berkecamuk tidak karuan. Aku berharap bisa melupakan kisahnya. Tapi seperti ada
yang berbisik untuk memberitahu Nani perihal masalah itu. Tapi menurutku tidak
perlu aku sampaikan karena pasti membuat Nani membenci ayahnya sendiri. Mungkin
suatu hari nanti. Entah aku juga tidak tahu. Mungkin semua laki-laki
ditakdirkan untuk tidak bisa terbuka dan selalu menyimpan apapun dengan rapat.
Sejak itu, aku memutuskan diriku untuk menjadi pendiam.