Thursday, November 13, 2014

KETIKA TAKDIR TELAH MEMANGGIL

Oleh: Lies Amin Lestari

Seminggu yang lalu, tepatnya pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 2014, Presiden ke 7 Republik Indonesia mengumumkan susunan kabinetnya yang dinamai Kabinet Kerja. Pengumuman kabinet ini sempat molor beberapa hari dari yang ditargetkan karena sang Presiden harus melakukan beberapa perubahan akibat adanya beberapa nama yang diberi tanda stabilo merah dan kuning oleh KPK ketika sederet nama yang digadang akan didapuk menjadi menteri.

Banyak hal yang menarik dari proses pemilihan hingga pelantikan menteri pada Kabinet Kerja (KK) Presiden Jokowi kali ini. Di antaranya adalah dresscode yang ditetapkan yang cenderung casual, hem putih lengan panjang dan celana panjang atau bawahan warna hitam, gaya pengumuman yang cenderung santai di halaman istana dengan para calon menteri yang disebutkan namanya berlari menempati posisi yang telah ditetapkan, pelantikan yang memakai baju batik yang di luar kelaziman (biasanya berjas bagi pria dan berkebaya bagi wanita), dan dipilihnya beberapa nama yang di luar bayangan publik sebelumnya.

Segera setelah pengumuman  KK, media massa dan media social diramaikan dengan sosok Susi Pudjiastuti, wanita paruh baya bos besar Susi Air, yang ditugasi Jokowi menggawangi Kementerian Perikanan dan Kelautan. Susi menarik perhatian publik bukan hanya karena penampilannya yang nyentrik untuk ukuran seorang menteri (bertato, rambut disemir kemerahan, melayani wawancara wartawan sambil lesehan di halaman istana), tetapi ia ternyata ia hanya seorang tamatan SMP meskipun ia seorang pengusaha yang sukses. Maka jadilah Menteri yang satu ini menjadi trending topik di media.

Lima tahun yang lalu, ada seorang calon menteri wanita yang juga menjadi pusat perhatian publik. Dia adalah Nila Djoewita Afansa Moeleoek. Saat itu, sosok wanita ini pernah hampir akan menjadi orang nomor satu di Kementerian Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) yang digawangi Presiden ke 6 RI, SBY. Karena satu dan lain hal, Nila tidak jadi dilantik meskipun ia telah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan serta tes kesehatan.

Saat pengumuman KIB II, dan nama Nila tidak muncul dalam daftar nama yang disebut Presiden SBY, media ramai memberitakannya. Tentu media heran mengapa Nila gagal dilantik sedangkan nama-nama lainnya yang telah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan serta tes kesehatan masuk dalam jajaran KIB II. Di layar TV, ditayangkan suasana di rumah Nila ketika ternyata ia ternyata tidak jadi dilantik. Ternyata di rumah Nila telah terpampang beberapa karangan bunga ucapan selamat atas pelatikan Nila sebagai Menteri Kesehatan, di antaranya  dari Universitas Indonesia, almamaternya dan lembaga di mana ia bekerja.

Kecewakah Nila? Saya tidak tahu persis perasaan Nila saat itu karena ia tidak pernah memberikan pernyataan pers. Dia juga tidak pernah curhat di media sosial. Mungkin hanya kelurga dan teman sangat dekatnya saja yang tahu perasaannya saat itu.

Setelah beberapa lama, Presiden SBY memanggil Nila ke Istana Negara dan ia ditugasi sebagai duta Indonesia untuk MDGs (Millenium Development Goals). Nila menerima tugas itu dengan ikhlas, dan ia melaksanakannya dengan baik. Tidak banyak yang diberitakan media tentang Nila terkait kiprahnya sebagai Duta MDGs hingga Presiden Jokowi menyebut namanya sebagai Menteri Kesehatan pada KK tanggal 25 Oktober lalu.

Kisah tentang Nila yang pernah gagal menjadi menteri lima tahun yang lalu, dan kini lima tahun kemudian ia dilantik menjadi Menkes, jabatan yang sama yang pernah nyaris ia duduki, mengingatkan saya pada apa yang disebut takdir. Siapa pun tidak bisa menolak takdir, sesuatu yang telah digariskan Allah akan terjadi pada umatNya, baik itu hal yang dianggap baik maupun kurang baik.

Biasanya kita mengaitkan takdir dengan sesuatu yang kurang menyenangkan yang terjadi pada diri seseorang. Misalnya, ada seseorang yang telah berusaha mati-matian untuk mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya namun ternyata ia hanya memperoleh hasil yang jauh dari yang diharapkan. Untuk menghibur diri atas usaha yang berakhir kurang positif itu kita menyebutnya sebagai takdir. “Bersabarlah, karena mungkin itu memang sudah menjadi takdirmu,” demikian mungkin yang kita ucapkan untuk mengurangi rasa kecewa yang muncul.

Mungkin kalimat yang sama atau senada itu pula yang akan kita katakan ketika Susi Pudjiastuti harus drop out dari sekolahnya ketika ia sedang vokal menyuarakan golput saat ia duduk di kelas 2 di sebuah SMA Negeri di Yogjakarta sekian tahun lalu. Hal yang sama mungkin juga terucap saat Nila Djoewita Moeloek secara mengejutkan tidak jadi dilantik menjadi Menteri Kesehatan tahun 2009 yang lalu.

Hanya Allah yang Mahatahu segalanya. Oleh karena itu, bila sesuatu terjadi pada kita, sebaiknya kita menerimanya dengan ikhlas. Bila sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi, anggaplah itu ujian bagi kita. Ujian untuk menaikkan derajat kita menjadi lebih baik. Bagi kita, manusia biasa, yang terbaik adalah berusaha sekuat tenaga dengan cara yang baik dan halal untuk mendapatkan yang terbaik. Tentang bagaimana hasilnya, kita serahkan saja semua kepada Allah. Kita tidak perlu mencari-cari kambing hitam atau kambing putih untuk dijadikan korban atas kekurang-beruntungan kita. Toh apabila sudah tiba saatnya sesuatu yang lebih baik atau bahkan yang terbaik akan dating pula kepada kita.

Sebaliknya, bila sesuatu yang sangat menyenangkan dan menggembirakan datang, kita tidak perlu jumawa. Mungkin yang menyenangkan itu juga ujian bagi kita. Ujian untuk mengukur sejauh mana kita pandai menjaga amanah yang diberikan Allah untuk menguji iman kita. Kita laksanakan amanah itu sebaik mungkin agar Allah tidak kecewa atas apa yang telah kita lakukan untuk menjaga amanahNya.

Apakah ini artinya kita mesti selalu ‘berprasangka’ atas segala apa yang terjadi kepada kita? Tentu bukan ini maksudnya. Sebagai manusia, sebaiknya kita pandai mawas diri atas apa yang terjadi pada diri kita. Bukankah kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Allah atas takdir yang menimpa diri kita? Salah satu ayat al-Qur’an kurang lebih bermakna demikian: “Apa yang di mata manusia baik, belum tentu baik menurut Allah, dan sebaliknya apa yang dianggap buruk oleh manusia, belum tentu buruk pula di hadapan Allah.”

Jadi yang bisa kita lakukan adalah seperti syair lagu D’massive ini:
Syukuri apa yang ada/ hidup adalah anugrah/ tetap jalani hidup ini/ melakukan yang terbaik…..