Oleh: Lies Amin Lestari
Seminggu
yang lalu, tepatnya pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 2014, Presiden ke 7
Republik Indonesia mengumumkan susunan kabinetnya yang dinamai Kabinet Kerja.
Pengumuman kabinet ini sempat molor beberapa hari dari yang ditargetkan karena
sang Presiden harus melakukan beberapa perubahan akibat adanya beberapa nama
yang diberi tanda stabilo merah dan kuning oleh KPK ketika sederet nama yang
digadang akan didapuk menjadi menteri.
Banyak
hal yang menarik dari proses pemilihan hingga pelantikan menteri pada Kabinet
Kerja (KK) Presiden Jokowi kali ini. Di antaranya adalah dresscode yang ditetapkan yang cenderung casual, hem putih lengan
panjang dan celana panjang atau bawahan warna hitam, gaya pengumuman yang
cenderung santai di halaman istana dengan para calon menteri yang disebutkan
namanya berlari menempati posisi yang telah ditetapkan, pelantikan yang memakai
baju batik yang di luar kelaziman (biasanya berjas bagi pria dan berkebaya bagi
wanita), dan dipilihnya beberapa nama yang di luar bayangan publik sebelumnya.
Segera
setelah pengumuman KK, media massa dan
media social diramaikan dengan sosok Susi Pudjiastuti, wanita paruh baya bos
besar Susi Air, yang ditugasi Jokowi menggawangi Kementerian Perikanan dan
Kelautan. Susi menarik perhatian publik bukan hanya karena penampilannya yang
nyentrik untuk ukuran seorang menteri (bertato, rambut disemir kemerahan,
melayani wawancara wartawan sambil lesehan di halaman istana), tetapi ia
ternyata ia hanya seorang tamatan SMP meskipun ia seorang pengusaha yang
sukses. Maka jadilah Menteri yang satu ini menjadi trending topik di media.
Lima
tahun yang lalu, ada seorang calon menteri wanita yang juga menjadi pusat
perhatian publik. Dia adalah Nila Djoewita Afansa Moeleoek. Saat itu, sosok
wanita ini pernah hampir akan menjadi orang nomor satu di Kementerian Kesehatan
Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) yang digawangi Presiden ke 6 RI, SBY.
Karena satu dan lain hal, Nila tidak jadi dilantik meskipun ia telah mengikuti
uji kelayakan dan kepatutan serta tes kesehatan.
Saat
pengumuman KIB II, dan nama Nila tidak muncul dalam daftar nama yang disebut
Presiden SBY, media ramai memberitakannya. Tentu media heran mengapa Nila gagal
dilantik sedangkan nama-nama lainnya yang telah mengikuti uji kelayakan dan
kepatutan serta tes kesehatan masuk dalam jajaran KIB II. Di layar TV,
ditayangkan suasana di rumah Nila ketika ternyata ia ternyata tidak jadi
dilantik. Ternyata di rumah Nila telah terpampang beberapa karangan bunga
ucapan selamat atas pelatikan Nila sebagai Menteri Kesehatan, di antaranya dari Universitas Indonesia, almamaternya dan
lembaga di mana ia bekerja.
Kecewakah
Nila? Saya tidak tahu persis perasaan Nila saat itu karena ia tidak pernah
memberikan pernyataan pers. Dia juga tidak pernah curhat di media sosial.
Mungkin hanya kelurga dan teman sangat dekatnya saja yang tahu perasaannya saat
itu.
Setelah
beberapa lama, Presiden SBY memanggil Nila ke Istana Negara dan ia ditugasi
sebagai duta Indonesia untuk MDGs (Millenium Development Goals). Nila menerima
tugas itu dengan ikhlas, dan ia melaksanakannya dengan baik. Tidak banyak yang
diberitakan media tentang Nila terkait kiprahnya sebagai Duta MDGs hingga
Presiden Jokowi menyebut namanya sebagai Menteri Kesehatan pada KK tanggal 25
Oktober lalu.
Kisah
tentang Nila yang pernah gagal menjadi menteri lima tahun yang lalu, dan kini
lima tahun kemudian ia dilantik menjadi Menkes, jabatan yang sama yang pernah nyaris ia duduki, mengingatkan saya pada
apa yang disebut takdir. Siapa pun tidak bisa menolak takdir, sesuatu yang
telah digariskan Allah akan terjadi pada umatNya, baik itu hal yang dianggap
baik maupun kurang baik.
Biasanya
kita mengaitkan takdir dengan sesuatu yang kurang menyenangkan yang terjadi
pada diri seseorang. Misalnya, ada seseorang yang telah berusaha mati-matian
untuk mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya namun ternyata ia hanya
memperoleh hasil yang jauh dari yang diharapkan. Untuk menghibur diri atas
usaha yang berakhir kurang positif itu kita menyebutnya sebagai takdir.
“Bersabarlah, karena mungkin itu memang sudah menjadi takdirmu,” demikian
mungkin yang kita ucapkan untuk mengurangi rasa kecewa yang muncul.
Mungkin
kalimat yang sama atau senada itu pula yang akan kita katakan ketika Susi
Pudjiastuti harus drop out dari
sekolahnya ketika ia sedang vokal menyuarakan golput saat ia duduk di kelas 2
di sebuah SMA Negeri di Yogjakarta sekian tahun lalu. Hal yang sama mungkin
juga terucap saat Nila Djoewita Moeloek secara mengejutkan tidak jadi dilantik
menjadi Menteri Kesehatan tahun 2009 yang lalu.
Hanya
Allah yang Mahatahu segalanya. Oleh karena itu, bila sesuatu terjadi pada kita,
sebaiknya kita menerimanya dengan ikhlas. Bila sesuatu yang kurang menyenangkan
terjadi, anggaplah itu ujian bagi kita. Ujian untuk menaikkan derajat kita
menjadi lebih baik. Bagi kita, manusia biasa, yang terbaik adalah berusaha
sekuat tenaga dengan cara yang baik dan halal untuk mendapatkan yang terbaik.
Tentang bagaimana hasilnya, kita serahkan saja semua kepada Allah. Kita tidak
perlu mencari-cari kambing hitam atau kambing putih untuk dijadikan korban atas
kekurang-beruntungan kita. Toh apabila sudah tiba saatnya sesuatu yang lebih
baik atau bahkan yang terbaik akan dating pula kepada kita.
Sebaliknya,
bila sesuatu yang sangat menyenangkan dan menggembirakan datang, kita tidak
perlu jumawa. Mungkin yang menyenangkan itu juga ujian bagi kita. Ujian untuk
mengukur sejauh mana kita pandai menjaga amanah yang diberikan Allah untuk
menguji iman kita. Kita laksanakan amanah itu sebaik mungkin agar Allah tidak
kecewa atas apa yang telah kita lakukan untuk menjaga amanahNya.
Apakah
ini artinya kita mesti selalu ‘berprasangka’ atas segala apa yang terjadi
kepada kita? Tentu bukan ini maksudnya. Sebagai manusia, sebaiknya kita pandai
mawas diri atas apa yang terjadi pada diri kita. Bukankah kita tidak pernah
tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Allah atas takdir yang menimpa diri kita?
Salah satu ayat al-Qur’an kurang lebih bermakna demikian: “Apa yang di mata
manusia baik, belum tentu baik menurut Allah, dan sebaliknya apa yang dianggap
buruk oleh manusia, belum tentu buruk pula di hadapan Allah.”
Jadi
yang bisa kita lakukan adalah seperti syair lagu D’massive ini:
Syukuri apa yang ada/ hidup
adalah anugrah/ tetap jalani hidup ini/ melakukan yang terbaik…..